Selasa, 22 November 2016

DOA MEMOHON SEGALA AMPUNAN

00.45.00 Posted by Admin No comments


Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Sebenarnya ada do’a memohon ampunan pada Allah atau istighfar yang sudah mencakup segala hal, sudah mencakup segala dosa. Inilah do’a yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang moga² bisa rutin kita amalkan dalam doa² kita sehari-hari. Karena kita tahu bersama bahwa kita adalah manusia yang tidak luput dari salah baik tatkala bercanda atau serius. Moga dengan do’a ini, Allah mengampuni dan memaafkan kesalahan² kita yang ada.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii..”

Artinya:
"Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.." (HR. Bukhari no.6398 dan Muslim no.2719)

Penjelasan

Do’a ini adalah do’a yang mencakup segala macam istighfar (memohon ampunan pada Allah). Karena do’a ini sifatnya umum mencakup semuanya dan disertai dengan perincian dengan lafazh yang tegas.
Makna do’a ini adalah ‘Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya (dosa kecil maupun dosa besar). Ampunilah dosa yang muncul karena kejahilan diriku, karena sikap melampaui batas dalam segala hal. Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya yang kuketahui maupun tidak kuketahui, yang diperbuat dalam keadaan serius atau bercanda, dan yang diperbuat di kala keliru (tidak sengaja) dan di kala sengaja. Aku mengakui semua dosa-dosa ini, Ya Allah’.

Sedangkan kalimat do’a yang terakhir “wa kullu dzalika ‘indii”, maksudnya adalah pengakuan kepada Allah bahwa kita adalah hamba yang penuh dosa. Kita mengakui semua dosa itu sehingga timbullah rasa hina di hadapan Allah, maka kita pun mohon ampun pada-Nya. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa pengakuan seorang hamba terhadap dirinya bahwa ia penuh kekurangan, ini adalah salah satu sebab diterima taubat dan diampuninya dosa.

Renungkanlah Do’a

Ada satu pelajaran dari sini yang perlu diperhatikan. Do’a ini menunjukkan bahwa sudah seharusnya seseorang ketika berdo’a merenungkan maksud do’a yang ia panjatkan karena ini memberikan pengaruh amat besar pada jiwa. Hal ini akan menimbulkan kekhusyu’an, rasa tunduk dan hina di hadapan Ar Rahman. Inilah yang menunjukkan sempurnanya ibadah seseorang dalam beribadah kepada Allah.

Pelajaran Penting

Syech Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah memberikan faedah berharga mengenai do’a:

  1. Hendaknya seseorang menghadirkan segala apa yang ingin ia minta.
  2. Ketika berdo’a berarti kita sedang berinteraksi dengan Allah. Ketika seseorang merinci atau banyak meminta kepada Allah ketika interaksi tersebut, itu membuat Allah lebih menyukainya dibanding dengan hanya ringkas saja dalam meminta.
  3. Semakin banyak seseorang berdo’a, berarti ia semakin dekat dengan Allah.
  4. Semakin banyak seseorang berdo’a (memohon), itu tanda bahwa ia semakin butuh pada Allah Ta’ala. (Tafsir Surat ‘Ali Imron 1/116)


Wallahu Waliyyut Taufiq'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..

AYAT 1000 DINAR

00.33.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Melanjutkan pertanyaan dari Pak Emi di Cempaka Putih, yang menanyakan mengenai
Ayat 1000 dinar, berikut penjelasannya..

Ayat 1000 dinar adalah amalan yang termasyhur dalam masalah berkaitan rezeki dan perlindungan diri. Banyak yang mengamalkan ayat ini untuk tujuan meminta agar Allah SWT mengurniakan kemurahan rezeki, kemudahan dan penyelesaian masalah. Tetapi hendaknya kita mengamalkannya Ayat 1000 dinar ini dengan ketulusan hati dan istiqamah..

Sebenarnya apa sich Ayat 1000 dinar itu? Apakah ada landasan dalilnya dalam islam agar bisa di amalkan? Lalu apa keutamaan dari Ayat 1000 dinar ini?

Ayat 1000 dinar yang dimaksudkan adalah,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Menurut Ibnu Katsir, Maksud ayat “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya Rizki dari arah yang tidak dia duga" adalah barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya niscaya Dia akan member rizki dari arah yang tidak pernah terbesit dalam hatinya.

Dalam kitab Al Musnad disebutkan dari Muhammad  bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dari ayahnya, dari kakeknya, Abdullah bin Abbas, dia berkata: Rasulullah bersabda,

“barang siapa banyak beristighfar (memohon ampunan), maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan menjadi kemudahan, setiap kesempitan menjadi kelapangan, dan akan Dia karuniai rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Hadits diatas sekaligus menjadi penguat tafsir ayat 1000 Dinar.

Kemudian disebutkan lagi dalam hadits..

Dari Imam Ahmad meriwayatkan dari Tsauban, dia berkata: Rasulullah bersabda: “sesungguhnya seorang hamba akan diharamkan dari rizki karena dosa yang dilakukannnya, dan tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebaikan.” (HR. An Nasa’i, Ibnu Majah)

Kemudian dijelaskan lagi dalam hadits mengenai ayat selanjutnya yaitu “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia mencukupinya” bahwa..

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa dia memberitahunya, pada suatu hari dia pernah naik (membonceng) kendaraan dibelakanng Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda kepadanya:

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, Niscaya engkau akan mendapatkan-Nya dihadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan memberikan manfaat kepadamu melainkan dengan sesuatu yang ditetapkan Allah bagimu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu melainkan dengan apa yang ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat, dan telah kering pula (tinta) lembaran-lembaran ini.”

Itulah mengenai Ayat 1000 Dinar. Lalu adakah landasan dalil nya yang terkait dengan hal tersebut agar kita bisa mengamalkannya?/

Ada beberapa hadits terkait dengan hal ini riwayat Ahmad dan lain². Hadist ini menurut Hakim adalah hadits sahih.
Hadist tersebut sebagai berikut..

عن أبى ذر قال قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : يا أبا ذر إنى لأعرف آية لو أن الناس كلهم أخذوا بها لكفتهم ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

"Dari Abu Dzar Nabi bersabda: 'Wahai Abu Dzar, aku akan memberitahu tentang suatu ayat yang kalau seluruh manusia mengambilnya (yakni mengamalkannya) niscaya akan tercukupi (Nabi lalu membaca ayat ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب)

Dalam Musnad Ahmad ada tambahan teks hadits sebagai berikut..

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُو عَلَيَّ هَذِهِ الْآيَةَ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا سورة الطلاق آية 2 ، حَتَّى فَرَغَ مِنَ الْآيَةِ ، ثُمَّ قَالَ : " يَا أَبَا ذَرٍّ ، لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوا بِهَا لَكَفَتْهُمْ " ، قَالَ : فَجَعَلَ يَتْلُوِهَا ، وَيُرَدِّدُهَا عَلَيَّ حَتَّى نَعَسْتُ

"Abu Dzar berkata: Lalu Nabi membaca ayat ini yakni QS. At-Talaq ayat 2 sampai selesai lalu bersabda: 'Wahai Abu Dzar seandainya semua manusia mengambilnya niscaya akan mencukupi' Abu Dzar berkata, 'Lalu Nabi membacanya dan mengulang-ngulang bacaannya sampai aku mengantuk.'

Hadits ini terdapat dalam kitab² kompilasi hadits diantaranya riwayat Ahmad dalam Al Musnad 5/178 no.21591, Nasai dalam Al-Kubro 6/494 no.11603, Ibnu Majah 2/1411 no.4220, Darimi 2/392 no.2725, Hakim 2/534 no.3819.

Adapun sebab turunnya ayat ini sebagaimana disebut oleh Al Wahidi dalam kitab Asbabun Nuzul hlm.1/289 adalah sebagai berikut..

نزلت الآية في عوف بن مالك الأشجعي ، وذلك أن المشركين أسروا ابنا له ، فأتى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وشكا إليه الفاقة ، وقال : إن العدو أسر ابني وجزعت الأم ، فما تأمرني ؟ فقال النبي - صلى الله عليه وسلم - : " اتق الله واصبر ، وآمرك وإياها أن تستكثرا من قول : لا حول ولا قوة إلا بالله " ، فعاد إلى بيته وقال لامرأته : إن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أمرني وإياك أن نستكثر من قول لا حول ولا قوة إلا بالله ، فقالت : نعم ما أمرنا به ، فجعلا يقولان ، فغفل العدو عن ابنه ، فساق غنمهم وجاء بها إلى أبيه وهي أربعة آلاف شاة . فنزلت هذه الآية

"Ayat ini (At-Talaq 2 dan 3) berkaitan dengan Sahabat Auf bin Malik Al Asyja'iy di mana kaum musyrikin menahan anaknya. Lalu ia menghadap Nabi dan melaporkan masalah tersebut. Ia berkata, "Musuh menahan anakku, ibunya sangat sedih apa yang harus aku lakukan?" Nabi bersabda, "Takutlah pada Allah dan sabarlah. Aku memerintahkanmu dan istrimu untuk memperbanyak ucapan La haula wala quwwata illa billah." Ia lalu kembali ke rumahnya dan berkata pada istrinya, "Rasulullah menyuruhku dan engkau agar memperbanyak ucapan La haula wala quwwata illa billah." Istrinya berkata, "Sungguh perintah yang sangat baik." Lalu keduanya mengucapkan kata itu (berulang-ulang). Maka, musuh menjadi lupa akan anaknya. Sang anak menggiring domba² kaum musyrikin ke ayahnya sebanyak 4000 ekor. Lalu turunlah ayat ini..

Lalu bagaimanakah cara mengamalkan ayat 1000 dinar ini'?

Ayat 1000 dinar diatas dibaca sebanyak 21x setiap selesai shalat fardhu, lalu bacalah asma Allah berikut ini sebanyak 10x..

"Allaahumma innii as-aluka bismika, yaa razzaaqu yaa fattaahu yaa wahhaabu yaa ghaniyyu yaa mughniyyu yaa baasith.."

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu, wahai yang memberi rezeki, wahai yang membuka, wahai yang memberi karunia, wahai yang maha kaya, wahai yang mencukupi, wahai yang membentangkan.."

Kemudian berdoalah kepada Allah sesuai dengan hajat kita masing²..

Semoga Allah Ta'alaa senantiasa memberikan keluasan rezeki kepada kita semua, rezeki yang halal dan barokah'..

Aamiin Yaa Allah Yaa Mujibas Saailiin'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..

Senin, 21 November 2016

MENIUP-NIUP MINUMAN YANG PANAS

00.45.00 Posted by Admin No comments


Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Salah satu adab makan adalah dilarang bernafas di dalam wadah dan juga dilarang meniup-niup saat minum. Adab ini kadang tidak diperhatikan oleh kita karena ingin cepat² segera menikmati minuman yang sedang panas. Padahal menunggu sebentar atau tanpa meniup-niup, itu lebih selamat bahkan lebih sehat. Karena perlu diketahui bahwa saat meniup-niup seperti itu, sejatinya yang keluar adalah udara yang tidak bersih. Dengan alasan inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ « أَهْرِقْهَا ». قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ « فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meniup-niup saat minum. Seseorang berkata, “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?” Beliau bersabda, “Tumpahkan saja.” Ia berkata, “Aku tidak dapat minum dengan satu kali tarikan nafas.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air (tempat minum) itu dari mulutmu.” (HR. Tirmidzi no.1887 dan Ahmad 3: 26. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُتَنَفَّسَ فِى الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari bernafas di dalam wadah air (bejana) atau meniupnya.” (HR. Tirmidzi no.1888, Abu Daud no.3728, dan Ibnu Majah no.3429. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Imam Nawawi rahimahullah membawakan dua hadits di atas pada kitab adab makan pada Bab “Makruhnya meniup-niup saat minum.”

Di atas disebutkan mengenai bernafas di dalam wadah, itu pun terlarang. Artinya saat minum dilarang mengambil nafas dalam wadah. Yang dibolehkan adalah bernafas di luar wadah. Sedangkan meniup-niup saat minum sebagaimana kata Ibnu Hajar itu lebih parah dari sekedar bernafas di dalam wadah.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata,

وَالنَّفْخ فِي هَذِهِ الْأَحْوَال كُلّهَا أَشَدُّ مِنْ التَّنَفُّس

“Meniup-niup minuman dalam kondisi ini lebih parah dari sekedar bernafas di dalam wadah.”

Syech Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin mengatakan bahwa ketika seseorang meniup-niup, maka yang keluar adalah udara yang kotor. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan seperti itu.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan bahwa jika ada yang tidak dapat minum dengan satu tarikan nafas, maka ia bisa minum lalu bernafas setelah itu di luar wadah, lalu minum kembali. Kata Syech Ibnu ‘Utsaimin, sebagian ulama menyatakan ketika butuh tidak mengapa meniup minuman yang sedang panas biar cepat dingin. Mereka memberikan keringanan dalam hal ini. Akan tetap kata Syech Ibnu ‘Utsaimin, tetap berpendapat bahwa minuman panas tidak ditiup seperti itu. Sebenarnya bisa melakukan solusi untuk mendinginkan minuman, yaitu dengan menuangkan minuman yang panas ke wadah lainnya, lalu membalikkannya kembali. Ini di antara cara yang tidak dilarang dalam mendinginkan minuman. Demikian maksud penjelasan Syech Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Sholihin 4: 245.

Semoga kita bisa mempraktekkan adab sederhana ini saat makan maupun minum agar makanan yang kita makan pun bisa jadi penuh berkah.

Wallahu Waliyyut Taufiq'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

TIDUR TANPA BERDZIKIR KEPADA ALLAH

00.40.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Kadang kita lupa berdzikir dulu sebelum tidur. Padahal kita bisa mempraktekkan dzikir sederhana saja, yang penting mengingat Allah sebelum tidur.

Dzikir sebelum tidur misalnya dicontohkan sebagai berikut..
Mengumpulkan dua tapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Kemudian dengan dua tapak tangan mengusap tubuh yang dapat dijangkau, dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan. Kemudian hal ini diulang sampai tiga kali.

Juga bisa ditambahkan dengan doa’ yang berasal dari hadits yang muttafaqun ‘alaih:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.

“Bismika allahumma amuutu wa ahyaa..“ [Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup] (HR. Bukhari bersama Fathul Baari 11/113 no.6312 dan Muslim 4/2083 no.2711 dari hadits Al Barro’ radhiyallahu ‘anhu)

Perhatikan hadits berikut..
Dalam sunan Abi Daud, dengan sanad yang jayyid, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Barangsiapa yang duduk di majelis (suatu perkumpulan) lantas tidak menyebut nama Allah di dalamnya, maka ditetapkan oleh Allah suatu tirotun (kekurangan). Dan barangsiapa yang berbaring di tempat tidur lantas tidak mengucapkan nama Allah saat akan tidur, maka Allah menetapkan pada dirinya tirotun (kekurangan).

Tirotun dijelaskan oleh Imam Nawawi yang dimaksud adalah naqshun (kekurangan).
Dalam kitab Al Adzkar, Imam Nawawi membawakan hadits di atas dalam bab “Dimakruhkan tidur tanpa berdzikir pada Allah terlebih dahulu.”

Wallahu Waliyyut Taufiq'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

RUMAH YANG SEPERTI KUBURAN

00.34.00 Posted by Admin No comments


Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Jangan jadikan rumah kita seperti kuburan? Bagaimanakah rumah yang seperti kuburan itu? Rumah tersebut tidak pernah dikerjakan shalat di dalamnya, baik shalat wajib maupun sunnah. Rumah tersebut selalu lalai dari bacaan Al Qur’an. Itulah rumah yang seperti kuburan.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim no.1860)

Syech Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata,
Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah janganlah meninggalkan shalat di rumah. Artinya, rumah yang tidak ada shalat di dalamnya disebut kuburan. Karena shalat tidaklah sah dilakukan di kuburan sebagaimana disebutkan dalam hadits,

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Seluruh permukaan bumi adalah masjid kecuali kuburan dan tempat pemandian.“

Dari Abu Martsad Al Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

“Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya.”

Shalat sunnah maupun shalat wajib tidak sah dilakukan di kuburan, begitu pula untuk sujud tilawah dan sujud syukur. Tidak boleh ada shalat yang dilakukan di kuburan kecuali satu shalat saja yaitu shalat jenazah. Jika shalat jenazah dilakukan di area pekuburan, maka tidaklah masalah baik setelah penguburan maupun setelahnya. Namun untuk setelah penguburan, tidak boleh dilakukan pada waktu terlarang (untuk shalat). Misalnya, ada orang yang baru datang menghadiri jenazah namun ternyata telah dikubur, dan waktu saat itu adalah setelah ‘Ashar, maka shalat tidak boleh dilakukan saat itu. Hendaklah dipilih waktu lain untuk dilaksanakan shalat jenazah, seperti waktu Dhuha. Adapun jika seseorang datang, sedangkan jenazah belum dikuburkan namun baru diletakkan di area pekuburan, maka tidak mengapa melakukan setelah Ashar saat itu karena saat itu dilakukan punya sebab. Shalat yang punya sebab tidak mengenal waktu terlarang. (Syarh Riyadhis Sholihin 4: 683-684).

Jadikanlah rumah kita bercahaya dengan shalat, amalan di waktu malam, juga dengan lantunan Al Qur’an. Jangan isi rumah tersebut dengan tayangan mistik dan klenik di TV, jangan pula dengan lantunan² musik.

Wallahu Waliyyut Taufiq'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

Minggu, 20 November 2016

HIZIB PARA WALI

01.16.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Melanjutkan pertanyaan dari Akhi Hery Sutrisno di Kelapa Dua Depok, yang menanyakan mengenai Hizib serta manfaat dan keutamaannya, berikut penjelasannya..

Hizib adalah amalan doa/wirid yang dibuat oleh para Wali atau Ulama. Hizib sangat banyak ragamnya dan biasanya dinamai sesuai nama penyusun Hizib tersebut. Misalnya Hizib Nawawi adalah amalan hizib yang disusun oleh Syech Muhyiddin Zakariyya Yahya An Nawawi, Hizib Al Jaelani yaitu amalan hizib yang di susun oleh Syech Abdul Qadir Jaelani, dan masih banyak hizib lainnya dari beberapa para wali Allah.

Orang² yang mampu menyusun hizib tentu saja bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah orang² yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk memahami rahasia² huruf dan ayat Allah. Sehingga, dengan karunia Allah tersebut, mereka bisa menyusun hizib yang punya berbagai macam manfaat dan keutamaan.

Setiap hizib biasanya punya karakter dan keunikan masing². Kita bisa memilih amalan hizib sesuai dengan kebutuhan kita. Namun apabila kita bingung memilih hizib yang cocok, kita bisa konsultasikan dengan guru atau yang sudah paham dengan hal ini.

Di dalam kelompok pengamal ilmu kebatinan, hizib diamalkan untuk memohon pertolongan Allah SWT dan untuk menunjang berbagai hajat lainnya.

Dalam tradisi arab, kata hizib semula ditandai untuk merujuk sesuatu yang “berduyun-duyun” dan “berkelompok”. Itulah makanya ada kata “Hizbullah”, artinya “sekumpulan” bala tentara yang berjuang atas nama Allah SWT, tetapi kata Hizbullah sendiri kadang juga digunakan untuk menyebut para Malaikat.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Rasulullah SAW dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah SWT sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah).
  
Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thoriqot atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan² tertentu. Misalnya hizib yang khusus dibaca pada hari Jum’at, yang dimaksud adalah wirid² tertentu yang cukup dibaca pada hari Jum’at. Secara harfiah hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebagai tentara (pasukan ghoib).

Hizib popular di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya didalam lingkungan pondok pesantren. Penyusun hizib selalu dikaitkan dengan tokoh pengasas atau pemimpin aliran tasawuf, sufi atau tarekat.
Tujuan asal hizib adalah untuk diamalkan supaya diri seseorang yang mengamalkan hizib tersebut menjadi dekat dengan Allah SWT, dengan harapan semoga Allah SWT meridhai orang yang mengamal Hizib tersebut didunia hingga akhirat, karena hizib adalah termasuk kedalam kategori doa atau dzikir yang bertujuan untuk memperkuat keimanan (Tauhid) pengamal tersebut.

Hizib Syech Abdul Qadir Al Jaelani

Sebagaimana yang telah ane jelasin di atas, bahwa hizib itu ada beberapa macamnya. Salah satu hizib yang terkenal adalah hizib Al Jaelani yang di susun oleh Syech Abdul Qadir Jaelani.

Hizib ini berisi kumpulan doa dan ayat Al Qur'an, dan merupakan hizib yang di nisbatkan kepada Syech Abdul Qadir Al Jaelani, raja dirajanya para wali dan para kekasih Allah.

Berikut hizib Al Jaelani yang ane kutip dari Kitab Mujarabat..

رَبِّ اِنِّي مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ وَاجْبُرْ قَلْبِي المُنْكَسِرْ وَاجْمَعْ شَمْلِي المُنْدَثِرْ اِنَّكَ اَنْتَ الرَّحْمَنُ المُقْتَدِرْ وَاكْفِنِي يَا كَافِي فَأَنَا العَبْدُ المُفْتَقِرْ وَكَفَي بِا للهِ وَلِيًّا وَكَفَي بِاللهِ نَصِيْرًا اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ وَمَا اللهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ فَقُطِعَ دَابِرُ القَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Rabbi innii maghluubun fantashir. Wajbur qalbil munkasir. Wajma' syamlil mundatsir innaka antarrahmaanul muqtadir Wakfinii yaa kaafii fa anal 'abdul muftaqir wa kafaa billaahi waliyyan wa kafaa billaahi nashiiraa innasy Syirka ladzulmun 'adziim. wamallaahu yuriidu dzulman lil'ibaad. Faquthi'a daabirul qaumilladziina dzalamuu walhamdulillaahi rabbil 'aalamiin..

Artinya:
"Wahai Allah, aku telah kalah (kalah oleh tubuh dan nafsuku hingga tak mampu terus-menerus berdzikir dan mendekat kepadaMu), maka berilah pertolongan.
Maka hiburlah hati yang telah hancur ini.
Maka padukanlah kemuliaan dan kesempurnaan yang telah terselubung, sungguh Engkau Yang Maha Pengasih dan maha Menentukan.
Cukupkanlah bagiku (cukupilah segala kebutuhanku) dan aku adalah hamba yang sangat membutuhkan uluran bantuan dari-Mu.
Dan cukuplah sudah Allah sebagai Dzat yang diandalkan, dan cukuplah sudah Allah sebagai penolong.
Sungguh menduakan Allah merupakan kejahatan atau kedzaliman yang amat besar, dan tiadalah Allah itu menginginkan kejahatan  dan kegelapan bagi hamba-hamba-Nya.
Maka terputuslah segala tipu daya dan usaha mereka yang berbuat kejahatan dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam."

Cara Pengamalannya:

1. Bacalah doa di atas sebanyak tujuh kali setiap ba'da shalat maghrib dan tujuh kali setiap ba'da shalat subuh.

2. Sebelum membacanya, ada baiknya berkirim hadiah bacaan fatihah kepada:

• Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam (1x)

• Keluarga beliau dan para sahabat beliau (1x)

• Syech Abdul Qadir Jailani (1x)

• Para ulama Al Amilin (1x)

• Kaum muslimin seluruhnya (1x)

3. Bacalah doa di atas dengan baik, tulus ikhlas, yakin, dan istiqamah.

Perhatikan adab dalam berdoa. Adab ini sangat penting agar amalan di atas mujarab.

Manfaat dan fadhilah dari Hizib Al Jaelani

Hizib atau doa wirid Al Jaelani ini apabila diamalkan maka memiliki khasiat yang banyak, diantaranya sebagai berikut..

  1. Akan hilangnya kesusahan, bagaimanapun besar kesusahan yang dirasakan.
  2. Akan dihilangkan keprihatinan dalam hidup.
  3. Akan diluaskan rizki, sehingga mengucur deras sebagaimana kucuran air hujan dari langit.
  4. Akan selamat dari setiap orang yang hendak berniat jahat. Sebab doa ini merupakan permohonon perlindungan kepada Allah Ta'alaa.
  5. Akan dijauhkan dari sihir, teluh, santet dan sebangsanya. Apapun sihirnya, insya Allah tidak akan bisa membahayakannya. Sebab ini doa untuk mengalahkan para dukun yang beramal menggunakan amalan setan.


Wallahu Waliyyut Taufiq'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..

TAFSIR DOA SAPU JAGAT

00.40.00 Posted by Admin No comments


Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah² kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar² ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.

Doa sapu jagad yang di maksud adalah,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.”
(Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka)

Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari² tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf.

Ayat yang menyebutkan hal ini,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.."
(Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no.4522 dan Muslim no.2690)

Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan,

وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ

“Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no.2690).

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan,

لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء

“Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari 2: 322).

Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut,

وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة .

“Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim 17: 13).

Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan² lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir.
Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut.
Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya.
Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal² syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal² yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 2: 122).

Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa.

Wallahu Waliyyut Taufiq'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..