Minggu, 19 Februari 2017

FENOMENA ISTERI-ISTERI ZAMAN SEKARANG

00.47.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Saat ini banyak lelaki yang mengatakan betapa susahnya mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria syariat. Apalagi di kota² besar di mana pergaulan anak² perempuan begitu bebas. Belum lagi pengaruh budaya impor dari Barat yang masuk melalui televisi yang kemudian ditiru menjadi gaya hidup. Zaman sekarang, untuk mencari pasangan memang harus hati².

Laki² bila ditanya kriteria apa yang diinginkan untuk calon istrinya, yang pertama dijawab pasti wanita yang keibuan. Artinya wanita itu punya sifat lembut, penuh kasih sayang, cinta kepada anak kecil dan punya sifat perhatian.

Nah, kenyataannya pada masa sekarang, telah jarang wanita punya sifat keibuan. Yang jadi fenomena saat ini adalah para wanita muda senang hura², mengidolakan artis² sinetron yang jelas² punya prilaku bebas, matre/ materialistis (cinta harta), malas dan boros. Dan yang lebih parah lagi yaitu mereka tidak mengerti agama.

Kepada Allah ia jauh, sedang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak kenal. Dengan orang tua tak ada hormatnya, bahkan senang menghujat orang tua temannya (yang maksudnya mungkin baginya hanya saling canda, tetapi karena panduannya sinetron maka candanya itu mengumpat orang tua temannya). Padahal itu termasuk dosa besar. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di antara dosa besar adalah seorang laki² mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ‘Apakah (mungkin) seorang laki² mencela orang tuanya?‘ Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.”
(Hadits muttafaq ‘alaih, disepakati shahihnya oleh Al Bukhari dan Muslim).

Dan satu lagi fenomena rusaknya wanita muda sekarang, yaitu sangat percaya diri yang sangat kuat dan dihinggapi pula apa yang disebut narsis sehingga mengakibatkan hilangnya rasa tawadhu’, apalagi rasa takut kepada Allah, itu hal yang tak mereka fikirkan.

Dikabarkan, semakin mendekati kiamat, jumlah wanita lebih banyak dari laki². Dalam kenyataan, meskipun wanita itu banyak, tetapi laki² tetap susah untuk memilih wanita sebagai pendamping hidupnya. Lain hal dengan laki² yang asal pilih. Asal senang sama senang sudah jadi. Yang begini tentu saja akan mudah didapat.

Ketika si wanita telah menjadi istri, ia tidak paham bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia tidak tahu kewajiban untuk beribadah kepada Robb nya, karena selama menjadi remaja, ia hanya hura². Ia pun tidak paham bagaimana bakti kepada suami. Karena selama ramaja panduan pendidikannya adalah artis² sinetron, yang diantaranya mengajarkan seorang istri melawan suami, seorang istri tidak tunduk kepada suami, dan digambarkan bagaimana cara menentang suami agar suami takut dengan istri.

Fenomena rusaknya wanita masa kini yang jauh dari kriteria wanita yang keibuan telah merasuki hampir seluruh wanita² muda yang akan menjadi ibu rumah tangga. Padahal untuk memasuki dunia rumah tangga ada kewajiban yang besar yang mau tidak mau harus diikuti yaitu bakti kepada suami.

Hidup adalah untuk ibadah kepada sang pencipta, Allah SWT. Salah satu ibadah seorang istri yakni mematuhi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah berbakti kepada suami.

Janganlah diikuti fenomena yang sekarang sedang melanda para wanita.

Ikuti apa yang telah diajarkan agama. Karena biar bagaimanpun wanita dituntut untuk punya sifat keibuan dalam perannya sebagai istri. Wanita dituntut untuk taat kepada Allah SWT dan bakti kepada suaminya.

Bila perannya sebagai istri tetapi prilakunya masih mengikuti fenomena yang melanda para wanita muda masa kini, prilakunya mengikuti sinetron² maka tak akan ada kata tenteram dalam rumah tangganya dan tunggulah saat kehancuran diri dan keluarganya, serta tak akan ada jaminan selamatnya seorang ibu rumah tangga kelak di akhirat. Maka satu²nya jalan menuju ketenteraman jiwa dan ketenteraman keluarga adalah bakti kepada suami setelah bakti kepada Allah Ta’ala. Ikuti peraturan agama. Selalu belajar sabar untuk menjalani peran sebagai istri dengan sederet kewajiban yang harus ditaati.

Perlu disadari Ridho Allah berkaitan pula dengan hubungan isteri terhadap suami. Sebaliknya, kemarahan suami dapat mengakibatkan datangnya laknat bagi isteri.

Contohnya adalah apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا بَاتَتْ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Dari Abu Hurairah ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang wanita bermalam sementara ia tidak memenuhi ajakan suaminya di tempat tidur, maka Malaikat melaknatnya hingga pagi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Ini menunjukkan haramnya isteri menolak ajakan suami di tempat tidur tanpa halangan syar’i dan tidak karena haidh (ketika haidh pun suami masih punya hak untuk bersenang² dengan isteri di luar kain). Hadits ini artinya, laknat akan terus menerus atas isteri sehingga ia tidak lagi maksiat (dengan penolakannya itu) karena telah terbitnya fajar atau dengan bertaubatnya atau kembali ke tempat tidur suaminya.

Sebaliknya, suami juga tidak boleh zalim kepada isteri. Sehingga lelaki yang terpuji adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap keluarganya yakni terutama kepada isteri.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَإِذَا مَاتَ صَاحِبُكُمْ فَدَعُوهُ

Dari ‘Aisyah ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik kepada keluarganya, apabila sahabat kalian meninggal, maka biarkanlah (jangan mengungkit-ungkit kejelekannya).” (HR. Ad Darimi).

Ketika isteri berbakti kepada suami, sedang suami adalah orang yang baik kepada isterinya, maka di situlah terjalin rumah tangga yang harmonis dalam ridho Allah, Insyaa Allah. Dan itulah yang disebut keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, keluarga yang tenteram, diliputi cinta dan kasih sayang. Itu semua hanya dapat diperoleh dengan jalan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala yang telah dibawa oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa salam. Oleh karena itu dalam hadits, wanita yang direkomendasikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diperisteri adalah yang baik agamanya. Bila tidak, maka celaka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَز أخرجه البخاري، ومسلم ، وأبو داود، والنسائي.

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, “Wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamannya. Carilah yang memiliki agama yang baik, maka engkau akan beruntung.”
(HR. Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An Nasa'i)

Sebagaimana agama (Islam) itu hanya untuk kemaslahatan di dunia dan akherat, maka ketika orang memiliki ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik, di situlah maslahat yang besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akherat. Demikian pula dalam berumah tangga. Maka rumah tangga yang diharapkan berisi isteri yang berbakti kepada suami dan suami yang baik terhadap isteri dan keluarganya tidak lain hanya ada pada orang² yang mengerti agama dan mentaatinya.

Oleh karena itu bagi wanita yang sudah berkeluarga, handaknya tidak henti²nya menimba ilmu agama dan mengamalkannya agar mampu berbakti kepada Allah dan juga kepada suami serta bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi amanahnya. Sedangkan wanita yang belum atau tidak bersuami pun demikian pula, karena mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya itu bukan hanya untuk ketika adanya suami. Berbakti kepada Allah itu wajib, kewajiban nomor satu, dan itu wajib pula dilandasi dengan ilmu. Maka bagaimanapun, mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya itu tetap dituntut dalam hidup ini.

Dan berbahagialah para wanita yang mampu menjalankan ini. Sehingga mampu berbakti kepada Allah, masih pula berbakti kepada suami.

Seberapa kadar berbakti kepada suami itupun perlu dipelajari dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menegaskan,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ ».

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan para wanita agar bersujud kepada suami² mereka, karena hak yang telah Allah berikan atas mereka.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Syech Al Albani dalam Shahih Abu Daud no.1873)

Itulah petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila isteri mematuhi agamanya (Islam) dan taat kepada suaminya (mengenai hal² yang tidak dilarang Allah dan Rasul-Nya) maka diberi kabar gembira sebagai berikut..

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ (ابن حبان عن أبى هريرة . أحمد عن عبد الرحمن بن عوف . البزار عن أنس)

Dari Abdurrahman bin Auf berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Bazzar, menurut Syech Al Albani hasan lighairih)

Kabar gembira dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu hendaknya diperhatikan dan ditaati oleh setiap wanita Muslimah, agar berbahagia di dalam berumah tangga atau hidup di dunia ini, dan juga bahagia di akherat kelak..

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..

Sabtu, 18 Februari 2017

TAUBATNYA PELAKU LIWATH APAKAH DI TERIMA?

00.58.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Para ulama bersepakat bahwa prilaku liwath (suka sesama jenis) adalah salah satu dari perbuatan dosa besar yang lebih besar daripada zina.

Hal itu bisa dilihat dari hukuman yang ditimpakan Allah SWT kepada kaum Luth dengan hujan batu dari langit, dijungkir balikan kampung halamannya serta sangsi yang dijatuhkan terhadap para pelakunya sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Jika kamu mendapati orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth (liwath) maka bunuhlah para pelakunya.”
(HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Namun demikian Allah SWT masih tetap membuka pintu taubat bagi para pelakunya yang mau kembali kepada Allah SWT dan bertaubat dengan taubat nashuha, sebagaimana firman Allah Ta'laa,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ﴿٦٨﴾
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ﴿٦٩﴾
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٧٠﴾

“Dan orang² yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, Kecuali orang² yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon : 68 – 70)

Dengan kembalinya seorang pelaku liwath kepada Allah SWT serta bertaubat dengan taubat nashuha maka pintu surga tetap terbuka baginya sebagaimana disebutkan Ibnu Qoyyim bahwa jika seorang yang diuji dengan ujian ini lalu kembali kepada Allah dan diberikan rezeki untuk bertaubat dengan taubat nashuha dan beramal shaleh, dan mengganti perbuatan² yang buruk dengan perbuatan² yang baik, mencuci kotoran itu dengan bermacam² ketaatan dan amal² yang mendekatkannya dengan Allah, menjaga pandangan, memelihara kemaluan dari apa² yang diharamkan, berlaku jujur kepada Allah dalam pergaulannya maka orang yang seperti ini akan mendapatkan ampunan dan dia termasuk kedalam penghuni surga.

Sesungguhnya Allah SWT mengampuni seluruh dosa². Apabila taubat dapat menghapuskan setiap dosa hingga dosa syirik terhadap Allah, membunuh para nabi, wali²-Nya, sihir, kekufuran dan sebagainya maka taubat itu tidaklah terbatas hanya pada penghapusan dosa ini.

Sungguh telah kokoh hikmah, keadilan dan keutamaan Allah SWT bahwa seorang yang bertaubat dari dosa bagai seorang yang tidak melakukan dosa. Sungguh Allah telah menjamin orang yang bertaubat dari dosa syirik, membunuh jiwa dan berzina bahwa Dia akan mengganti keburukannya dengan kebaikan. Ini adalah hukum yang umum bagi setiap orang yang bertaubat dari dosa, sebagaimana firman Allah Ta'alaa,

Artinya : “Katakanlah: “Hai hamba²-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa² semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az Zumar : 53)

Maka tidaklah satu dosa pun yang keluar dari keumuman ini akan tetapi ini adalah hak orang² yang bertaubat secara khusus. (al Jawabul Kaafi hal.116)

Taubat nashuha haruslah dibarengi dengan tekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan buruk tersebut. Tentunya diperlukan upaya keras untuk mendapatkan solusi menghilangkan perbuatan itu dari dirinya.

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

PERLAKUAN ISLAM TERHADAP PELAKU LIWATH

00.53.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Melanjutkan pertanyaan dari Akhi Tarun di Serang Banten, yang menanyakan soal hukuman pelaku liwath dalam islam, berikut penjelasannya'..

Dalam bahasa Arab pelaku homoseks atau suka sesama jenis itu di sebut Liwath. Dan Para ulama kaum muslimin mengatakan bahwa perbuatan liwath ini lebih besar dosa dan hukumannya dari perbuatan zina.

Jika orang yang belum nikah berzina, maka dia akan dihukum dengan 100 kali cambukan, lalu diasingkan dari negerinya selama setahun penuh.

Sedangkan orang yang sudah menikah lalu berzina, maka dia dihukum rajam (dilempari batu) hingga mati.

Adapun pelaku liwath maka hukumannya adalah dibunuh dalam keadaan bagaimana pun. Jika seseorang yang sudah baligh melakukan liwath dengan orang baligh lainnya karena sama² punya keinginan melakukannya, maka kedua pasangan tersebut harus dibunuh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan perbuatan liwath sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut. ”
(HR. Abu Daud no.4462, At Tirmidzi no.1456, dan Ibnu Majah no.2561. Syech Al Albani menilai hadits ini shahih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat telah sepakat (berijma’)bahwa pelaku liwath harus dibunuh. Akan tetapi mereka berselisih bagaimana hukuman bunuhnya? Sebagian ulama mengatakan bahwa pelaku liwath mesti dibakar dengan api karena besarnya dosa yang mereka perbuat. Ulama lainnya mengatakan bahwa pelaku liwath mesti dirajam (dilempar) dengan batu. Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa hukuman bagi pelaku liwath adalah dibuang dari tempat tertinggi di negeri tersebut, kemudian dilempari dengan batu. Intinya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ingin menjelaskan bahwa pelaku liwath mesti dibunuh berdasarkan kesepakatan para sahabat. Seperti kita ketahui bersama bahwa ijma’ (kesepakatan) para sahabat adalah hujjah (argumen) yang kuat dan  bisa mendukung hadits di atas.

Kenapa hukumannya bisa berat seperti itu?

Hal ini dikarenakan perbuatan liwath adalah perbuatan yang teramat keji yang dapat merusak tatanan masyarakat Islam. Seseorang sangat sulit mendeteksi manakah pelaku liwath karena mereka adalah pasangan sejenis, sesama pria. Mungkin saja kedua pasangan tersebut adalah shohib dekat. Berbeda dengan pelaku zina. Jika ada laki² dan perempuan berdua²an di tempat sunyi dan tercium mereka melakukan sesuatu layaknya pasangan suami istri, maka ini bisa diketahui. Namun beda halnya dengan perbuatan liwath. Oleh karena itu, hukumannya pantas seperti itu.

Inilah perlindungan dari Islam yang ingin menjaga tantanan masyarakat agar tidak rusak dengan adanya perbuatan homoseksual ataupun lesbian. Inilah rahmat dari agama ini yang senantiasa ingin melindungi umatnya dari kerusakan dan ini bukanlah berarti Islam agama yang kejam.

Dalil dari Sunnah Tentang Haramnya Liwath

• Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya..” [HR. Tirmidzi no.1456, Abu Daud no.4462, Ibnu Majah no.2561 dan Ahmad no.2727]

• Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

“Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth..”
[HR. Ibnu Majah no.2563, Tirmidzi berkata Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata Hadits shahih isnad]

• Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا

“Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)..” [HR Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra IV/322 No.7337]

• Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوْ امْرَأَةً فِيْ الدُبُرِ

“Allah tidak mau melihat kepada laki² yang menyetubuhi laki² atau menyetubuhi wanita pada duburnya..” [HR. Tirmidzi no.1166, Nasa’i no.1456 dan Ibnu Hibban no.1456 dalam Shahihnya. Hadits ini mencakup pula wanita kepada wanita]

• Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Itu adalah liwat kecil, yakni laki² yang menggauli istrinya di lubang duburnya..” [HR Ahmad no.6667]

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..

Jumat, 17 Februari 2017

MERAIH KEBERKAHAN HIDUP DENGAN TAWAKAL

08.14.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Di antara keistimewaan Nabi Isa adalah beliau dianugerahi keberkahan di mana pun berada. Hal ini disebutkan dalam surat Maryam ayat: 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia (Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”

Tentu ini merupakan nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat besar untuk Nabi Isa ‘alaihis salam. Keberkahan, yaitu tetapnya kebaikan, selalu menyertai Nabi Isa ‘alaihis salam dalam tutur kata dan perbuatannya. Bahkan, keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala tak pernah lepas darinya di kala senang ataupun susah.

Nikmat yang agung seperti ini tidak semua orang mendapatkannya. Bisa jadi di sana ada orang yang diberkahi ketika duduk di majelis ilmu. Namun, dia tidak diberkahi saat berada di tengah² keluarganya dengan berbuat zalim kepada anak dan istrinya.

Sebagian orang diberkahi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk beramal kebaikan saat lapang, namun tidak diberkahi saat sulit. Padahal apabila keberkahan hidup menyertai seseorang, sesuatu yang sedikit bisa menjadi banyak, perubahan kondisi pun tidak akan mengubah semangatnya menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kiat Agar Keberkahan Hidup Selalu Menyertai Hamba

Tanpa bantuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, manusia selalu diliputi oleh kelemahan dalam segala sisi kehidupannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا ٢٨

“Dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An Nisa: 28)

Tak terkecuali dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari². Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman kita mesti senantiasa bergantung pada Sang Pencipta alam semesta, dengan selalu memohon kepada-Nya agar dimudahkan dalam segala urusan. Tentu saja dengan diiringi usaha yang maksimal.

Orang yang berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (tawakal) tidak akan pernah kecewa karena ia yakin dengan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” ( QS. Ath Thalaq: 3)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan dalam suatu haditsnya,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْبِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah engkau terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan mintalah bantuan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, janganlah melemah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Syech As Sa’di rahimahullah berkata, “Urusan yang bermanfaat ada dua macam, yaitu urusan agama dan urusan dunia. Sebagaimana halnya memerlukan urusan dunia, seorang hamba juga memerlukan urusan agama. Sementara itu, rahasia keberhasilan hamba dan diberinya petunjuk terletak pada semangat dan kesungguhannya dalam mewujudkan dua macam urusan yang bermanfaat tersebut, sembari memohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Manakala seorang hamba bersungguh² dalam urusan yang bermanfaat, dengan menelusuri jalan (keberhasilan) serta senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar hal tersebut terwujud, ini menjadi pertanda kesempurnaan dan keberhasilannya. Apabila salah satu dari tiga faktor ini (semangat mencari sesuatu yang bermanfaat dan meminta bantuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala) tidak terpenuhi, sebatas itu pula ia terlewatkan dari kebaikan.

Oleh karena itu, orang yang tidak bersemangat dalam urusan yang bermanfaat, justru bermalas²an, ia tidak menggapai apa pun (dari kebaikan) karena kemalasan adalah pangkal kegagalan. Orang yang pemalas tidak akan meraih kebaikan dan kemuliaan. Ia bukan orang yang memperoleh keberuntungan, baik dari sisi agama maupun sisi dunia.

(Seperti itu pula) orang yang bersemangat namun pada urusan² yang tidak ada manfaatnya, baik sesuatu yang jelas² bermudhorot maupun sesuatu yang bisa menghambat kesempurnaan (dirinya).

Hasil dari semangat yang seperti ini hanyalah penyesalan, terlewat dari kebaikan, dan mendapat kejelekan, serta sesuatu yang membahayakan. Sungguh, betapa banyak orang yang bersemangat menempuh cara dan metode yang tidak berguna lantas tidak memetik dari semangatnya selain letih dan sengsara.

Berikutnya, apabila seorang hamba telah menempuh usaha yang bermanfaat dengan penuh semangat, belum dikatakan sempurna hingga dia benar² bergantung pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan meminta bantuan-Nya guna tercapai dan terpenuhinya (kebutuhannya).

Seseorang hendaknya tidak mengandalkan kemampuan diri, usaha, dan kekuatannya. Akan tetapi, hendaknya ia bersandar secara penuh, lahir dan batin, kepada Rabbnya. Dengan cara ini, hal² yang sulit akan terasa mudah, dan kondisi menjadi ringan, serta hasil yang maksimal bisa diraih.” (Bahjatu Qulubil Abrar hlm.25)

Amal Shaleh Membawa Keberkahan Hidup

Usaha yang keras dan tekun dengan menempuh sebab² keberhasilan, secara teori duniawi bukanlah satu²nya jalan untuk menggapai cita². Ada sebuah faktor utama untuk mendapatkan keberkahan hidup, yaitu menjalankan beragam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini dinyatakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ

“Jikalau penduduk negeri² beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al A’raf: 96)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya amal kebaikan akan menjadikan wajah bercahaya, hati bersinar, rezeki luas, badan kuat, dan kecintaan pada hati para hamba. Sebaliknya, sesungguhnya kemaksiatan akan membuat wajah menjadi kelam, hati menjadi gelap, badan menjadi lemah, rezeki berkurang, dan kebencian pada hati para hamba.”(Nurul Taqwa hlm.4—5 karya Al Qahthani)

Di antara amal ketaatan tersebut adalah menyambung tali kekerabatan (silaturrahmi). Al Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali kekerabatannya.”

Memang, balasan itu setimpal dengan perbuatan. Sebagaimana seseorang telah menyambung karib kerabatnya dengan beragam kebaikan serta menyisipkan kebahagiaan kepada mereka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga akan membalas dengan menyambung umur orang tersebut dan rezekinya, membukakan baginya pintu² rezeki dan barokahnya. Sesuatu yang tidak bisa diraih kecuali dengan sebab yang mulia (silaturrahmi) ini. Sebagaimana kesehatan yang terjaga, udara yang sejuk, makanan yang bergizi, serta melakukan hal² yang bisa memperkuat tubuh dan hati termasuk sebab panjangnya umur, demikian pula silaturrahmi.

Sesungguhnya cara untuk diperolehnya hal² duniawi yang disukai oleh hamba ada dua: satu cara yang bisa dijangkau oleh indra, dan cara yang lain adalah upaya² syar’i berupa amal ketaatan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaq: 2—3)

Sabar Kunci Keberhasilan

Sabar dalam agama Islam kedudukannya seperti kepala bagi tubuh. Apabila kepala itu hilang, mungkinkah seseorang itu hidup?!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَمِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seorang diberi (oleh Allah Subhanahu wa ta’ala) sebuah pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sabar dengan tiga macamnya yaitu bersabar menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bersabar meninggalkan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta bersabar menghadapi musibah dan cobaan, merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi janji² yang mulia bagi orang yang bersabar. Di antara janji tersebut ialah orang yang sabar akan dibantu dalam segala urusannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintainya, mengokohkan hati dan kakinya, memberikan ketenteraman, memudahkannya untuk berbuat ketaatan, dijaga dari dosa, ditinggikan derajatnya dan beragam janji mulia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bahkan, derajat kemuliaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kepemimpinan dalam agama didapat dengan kesabaran, sebagaimana firman-Nya,

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ٢٤

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin² yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat² Kami.” (QS. As Sajdah: 24)

Apabila seseorang telah menghiasi dirinya dengan tiga bentuk kesabaran, ia akan istiqamah di atas jalan kebenaran. Amal ketaatan akan dia kerjakan, apa pun keadaannya. Kemaksiatan akan dia jauhi, sebesar apa pun dorongan hawa nafsunya. Musibah dunia akan dihadapinya dengan ketabahan, sepahit apa pun rasanya.

Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Kita dapatkan sebaik-baik kehidupan kita dalam kesabaran.”

Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kedudukan sabar terhadap iman seperti kepala bagi tubuh. Tidak ada iman bagi yang tidak punya sifat sabar.” (Nurul Iqtibas karya Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah)

Merasa Cukup dengan Pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Menurut agama, orang yang kaya bukan yang melimpah hartanya. Orang yang kaya adalah yang hatinya merasa cukup dengan pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala (qana’ah).

Orang yang hatinya selalu rakus dengan dunia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Ia selalu melihat kepada orang yang lebih tinggi darinya dalam urusan dunia. Akhirnya, ia meremehkan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam qalbunya tumbuh rasa hasad dan iri terhadap orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُغِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ،وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْكَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُبَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْيَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan rasa kecukupannya dalam hatinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan kumpulkan baginya urusan²nya yang berceceran. Dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina dan mudah didapat. Sebaliknya, barang siapa yang dunia menjadi tujuannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan kefakirannya terpampang di hadapan kedua matanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidaklah sampai kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Syaikh Al Albani menyatakan sahih dalam Shahih Al Jami’ no.6510)

Orang yang kefakirannya selalu terpampang di hadapannya, bagaimana akan merasa bahagia? Orang yang tidak pernah puas dengan pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bagaimana ia tidak tersiksa?

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila kita memiliki hati yang merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita sama dengan raja dunia."

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كثُرَ وَأَلْهَى

“Sesungguhnya yang sedikit dan mecukupi lebih baik daripada yang banyak namun melalaikan.” (HR. Abu Ya’la dan Adh Dhiya. Shahih Al Jami’ no.5653)

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..

RIDHA ALLAH ADA DALAM RIDHA KEDUA ORANG TUA

08.01.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Salah satu syariat Islam terpenting adalah berbuat bagus terhadap kedua orang tua. Berbuat baik kepada ayah dan ibu bersifat mutlak tanpa syarat, apakah orang tua kita itu orang beriman atau tidak, apakah mereka itu orang kaya yang dapat memanjakan anaknya ataukah mereka orang biasa yang tidak dapat mencukupi kebutuhan anak²nya. Hanya satu batas dalam birul walidaini yaitu apabila orang tua mengajak kemaksiatan atau menghalangi kita untuk bertaqwa pada Allah maka kita tidak boleh mentaatinya.

Saking wajibnya seorang anak berbakti kepada kedua orang tua, Allah Azza wa Jalla menggandeng perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepada-Nya. Bahkan Rasulullah SAW menjamin bahwa ridha Allah ada di dalam ridho kedua orang tua. Sebaliknya murka ayah dan ibu berarti murka Allah pula.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…

"Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua dengan sungguh².." [QS. An Nisa’ (4): 36]

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15)

"Dan Aku (Allah) berwasiat (memerintahkan) kepada manusia terhadap kedua orang tuanya agar berbuat baik, ibunya telah mengandungnya dengan berat dan melahirkannya dengan berat, dan ibunya mengandung dan menyapihnya hingga tiga puluh bulan. Sehingga ketika sampai dewasanya sampai usia empat puluh tahun. Manusia itu (Abu Bakar) berdoa,”Ya Tuhanku berilah saya ilham agar selalu bersyukur terhadap nikmat²-Mu yang telah engkau berikan kepada saya dan kepada kedua orang tuaku dan agar saya dapat mengamalkan kebaikan yang engkau ridhoi dan bagusilah keturunanku. Sesungguhnya saya bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya saya tergolong orang Islam.." [QS. Al Ahqoof (46): 15]

1899 – حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الحَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ [ص:311] صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ» …
__________
[حكم الألباني] : صحيح

"… dari Abdillah bin Amri, dari Rasulullah SAW bersabda, “Ridho Allah ada dalam ridho orang tua dan murka Allah ada pada kemurkaan orang tua.." [HR. Thirmizi No.1899 Abwabu Birri wa Sholah]

Praktek Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

Jelas, berbuat baik kepada kedua orang tua adalah kewajiban mutlak bagi setiap orang Islam. Seorang beriman yang dapat berbakti kepada orang tua akan mendapatkan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya seseorang yang menyia-nyiakan ayah ibunya diancam siksa Allah dunia akhirat.

Orang tua, bapak dan ibu adalah salah satu jembatan ke Surga bagi seorang anak. Celakalah seseorang yang menjumpai kedua orang tuanya sudah tua renta tapi tidak dapat dijadikan jalan ke Surga.

Karena itu setiap Muslim mesti menyadari kewajiban atau amalan² yang harus dikerjakan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

Berikut adalah rangkuman sikap perbuatan sebagai wujud birul walidain..

• Selalu bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua

Keberadaan kita di dunia ini adalah lantaran perjuangan orang tua. Tidak ada kasih sayang yang diperoleh seorang anak melebihi kasih sayang orang tua. Maka sudah sepatutnya seorang anak selalu bersyukur kepada kedua orang tuanya. Sebagai seorang anak hendaknya mencintai, sayang dan berterima kasih kepada ayah dan ibu.

Sebaliknya tidak sepatutnya seorang anak merendahkan atau mencela orang tua sebab kekurangan bapak dan ibunya. Sekecil apapun pemberian orang tua wajib disyukuri tidak boleh diremehkan. Begitu juga seorang anak tidak boleh meminta atau menuntut yang diluar batas kemampuan orang tua.

Sesuai Firman Allah dalam Surah Lukman ayat 14,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14)

"Dan Aku (Allah) perintahkan kepada manusia (berbuat bagus) kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang terus menerus dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah tempat kembali.." [QS. Lukman (31): 14]

• Hormat, patuh dan berbakti kepada kedua orang tua

Salah satu bentuk berbuat baik kepada orang tua (birul walidain) adalah bersikap hormat, taat / patuh dan berbakti kepada ayah dan ibu. Adalah dosa besar bila seorang anak berkata kasar atau membentak kedua orang tuanya, terutama terhadap orang tua yang sudah tua renta.

Ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Isro’ ayat 23,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ,ظيهر.

"Dan Tuhanmu telah mewajibkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia (allah) dan hendaknya kalian berbuat baik pada kedua orang tua kalian dengan sungguh², jika salah seorang diantara keduannya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam peramutanmu, maka sekali² janganlah kamu mengatkan “hus!” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia.." [QS. Al Isro’ (17): 23]

Berbuat baik kepada kedua orang tua derajatnya melebihi Jihad fii Sabilillah. Dikisahkan dalam hadist Sunan Abu Daud No.2530 Kitabul Jihad, seorang sahabat yang hijrah untuk jihad pada masa Rasulullah namun Nabi memerintahkannya kembali pulang untuk merawat orang tuanya..

2530 – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي [ص:18] عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَنَّ دَرَّاجًا أَبَا السَّمْحِ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَجُلًا هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْيَمَنِ فَقَالَ: «هَلْ لَكَ أَحَدٌ بِالْيَمَنِ؟» ، قَالَ: أَبَوَايَ، قَالَ: «أَذِنَا لَكَ؟» قَالَ: «لَا» ، قَالَ: «ارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَاسْتَأْذِنْهُمَا، فَإِنْ أَذِنَا لَكَ فَجَاهِدْ، وَإِلَّا فَبِرَّهُمَا»
__________
[حكم الألباني] : صحيح

"… dari Abi Said AlHudriyi: Sesungguhnya ada seorang laki² dari Yaman hijrah pada Nabi, maka Nabi bertanya: “Apakah engkau memiliki seseorang di Yaman?”
Laki² itu menjawab, “Kedua orang tuaku”.
Lalu Nabi bertanya kembali, “Apakah keduanya memberi izin engaku.”
Laki² itu menjawab, “Tidak”.
Nabi bersabda: “Kembalilah kamu pada keduanya, maka mintalah izin pada keduanya, jika mereka memberi izin maka berjihadlah, namun bila tidak memberi izin maka berbuat baiklah kamu kepada mereka.." [HR. Abu Daud No.2530 Kitabul Jihad]

• Berupaya menjadi anak sholeh dan selalu berdoa untuk kebaikan orang tua

Pengharapan terbesar dari kedua orang tua tidak ada lain kecuali agar anak²nya menjadi anak sholeh, orang² yang bertaqwa kepada Allah. Anak sholeh akan dapat mengangkat derajat kedua orang tua baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada yang dapat membalas budi kedua orang tua kecuali doa anak sholeh kepada kedua orang tuanya.

2880 – حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُؤَذِّنُ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أُرَاهُ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ”
__________
[حكم الألباني] : صحيح

"… dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Ketika manusia mati putuslah darinya amalannya kecuali tiga perkara: dari shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.." [HR. Abu Daud No.2880 Kitabul Washoya]

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..