Minggu, 26 Februari 2017

SUDAH SUCI HAIDH SEBELUM SUBUH, APAKAH BOLEH BERPUASA WALAU BELUM MANDI WAJIB?

01.09.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Melanjutkan pertanyaan dari salah seorang Akhwat yang menanyakan soal boleh tidaknya puasa bila belum mandi junub setelah haid, berikut penjelasan nya'..

Bagaimana jika ada wanita yang sampai malam masih mengalami haidh, lantas menjelang Shubuh, ketika waktu sahur mendapati sudah suci namun belum mandi sampai masuk waktu Shubuh, apakah boleh berpuasa?

Syech Muhammad Shalih Al Munajjid berkata, jika saja ada wanita yang yakin suci dari haidh dan sudah berniat puasa sebelum Shubuh, walaupun tinggal semenit lagi akan masuk Shubuh, puasanya tetap sah walau ia belum sempat mandi besar (mandi wajib) kecuali setelah masuk Shubuh ketika ingin melaksanakan shalat Shubuh.

Namun kalau sucinya masih dalam keadaan ragu² lalu berniat puasa, maka puasanya tidak sah karena puasa harus dengan niat yang yakin, tidak boleh ada ragu².

Syech Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang berpuasa dalam keadaan ragu² sudah suci ataukah belum dari haidh. Bagaimana jika di pagi hari ia mendapati dirinya suci, apakah puasanya dianggap sah padahal sebelumnya tidak yakin sudah suci?

Syech rahimahullah menjawab, “Puasanya tidak dianggap. Puasa ketika itu wajib diqadha (diganti). Karena asalnya haidhnya masih ada dan ketika itu masuk puasa dalam keadaan tidak yakin sudah suci. Padahal untuk masuk puasa harus dalam keadaan yakin suci. Itulah yang menyebabkan puasanya tidak dianggap.” (Majmu’ Fatawa Syech Ibnu Utsaimin 19: 107)

Syech Al Munajjid juga menerangkan, jika seorang wanita sudah yakin suci dari haidh, maka hendaklah ia segera mandi dan melakukan shalat. Jangan sampai ia menunda-nunda mandinya hingga keluar waktu shalat sampai akhirnya tidak shalat. Jika seperti itu yang dilakukan, maka hendaklah bertaubat dan mengqadha puasa yang telah ditinggalkan.

Kenapa sampai wanita yang sudah suci sebelum Shubuh masih boleh melanjutkan puasa walaupun belum mandi kecuali ketika sudah masuk Shubuh?

Karena yang penting sudah suci, menunda mandi tidak masalah seperti kasus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dalam keadaan junub.

Istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim no.1109)

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

MENENGOK KESABARAN DIRI KALA UJIAN DAN COBAAN MENERPA

01.02.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Tak ada jalan yang tak berkelok Tak ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. Di mana ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan. Demikianlah sekelumit tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya sebagai medan tempaan (darul ibtila’), untuk menguji kualitas kesabaran dan penghambaan segenap hamba-Nya.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya. Sebab, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal² yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia Subhanahu Wa Ta’ala wajib diibadahi dalam hal² yang disukai. Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hal² yang disukainya. Karena itu, perhatikanlah penghambaan kepada-Nya dalam hal² yang tak disukai. Sebab, di situlah letak perbedaan yang membedakan kualitas para hamba. Kedudukan mereka di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” (Al Wabil ash Shayyib hlm.5)

Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama

Setiap muslim sejati tentu menyadari bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dan cobaan itu melainkan dengan bersabar atasnya meski disadari bahwa kesabaran itu sangat berat dilakukan. Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala Dzat Yang Maha rahman. Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya.

Tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut..

1. Perintah² Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang wajib ditaati.

2. Larangan² Allah Subhanahu Wa Ta’ala (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.

3. Musibah yang menimpa (takdir buruk).

Para ulama sepakat bahwa senjata utama untuk menghadapi tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah kesabaran, yaitu..

1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu Wa Ta’ala.

2. Sabar dari perbuatan maksiat, dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Sabar atas segala musibah yang menimpa dengan diiringi sikap ikhlas dan ridho terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Qa’idah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hlm. 90—91, Syarh Shahih Muslim karya Al Hafizh An Nawawi 3/101, dan Madarijus Salikin 2/156)

Sejauh manakah kesabaran dan penghambaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terkait dengan tiga jenis ujian dan cobaan itu? Sudahkah kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya?

Sudahkah kita bersabar dari perbuatan maksiat dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Sudahkah kita bersabar atas segala musibah yang menimpa dengan ikhlas dan ridho terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Marilah kita menengok kesabaran diri masing²..

Dalam menjalani kehidupan beragama, setiap muslim tak bisa dipisahkan dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan yang bersifat majemuk baik dari sisi karakter, latar belakang keluarga dan pendidikan, maupun pemahaman agama. Di situlah seorang muslim akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala terkait dengan tiga jenis kesabaran di atas.

Allah Ta’ala berfirman,

الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو

“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (QS. Al ‘Ankabut: 1—2)

Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan.
Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap² yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan “Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” sebagai cobaan (yang sebenar²nya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (QS. Al Anbiya’: 35)

Di antara ujian dan cobaan itu adalah adanya orang² jahat yang tidak suka terhadap orang² yang istiqamah di atas jalan kebenaran. Mereka mencela, menghina, mencibir, bahkan memusuhi orang² yang istiqamah itu. Kondisi semacam ini bahkan telah dialami oleh para nabi terdahulu yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap² Nabi, musuh dari orang² yang berdosa. Cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al Furqan: 31)

Maka dari itu, siapa saja dari hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala , baik muslim maupun muslimah yang berupaya istiqamah, dengan meniti jejak Rasulullah dan para sahabatnya (bermanhaj salaf) akan mengalami ujian terkait dengan keistiqamahannya itu. Tudingan sok alim, eksklusif, merasa benar sendiri, bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat, teroris, dan ujung²nya vonis sesat, kerap kali menerpa. Semua itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan untuk menguji kesabaran para hamba- Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (QS. Al Furqan: 20)

Dengan demikian, tiada jalan keselamatan dari segala ujian itu selain bersabar di atas kebenaran dengan mengedepankan sikap ilmiah, berpijak di atas hikmah, tidak mengedepankan hawa nafsu ataupun perasaan, penuh kehati²an dalam menilai dan melangkah (ta’anni), tidak mudah bereaksi, dan tidak serampangan bertindak. Tentu saja, tidak lupa memohon pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala Penguasa alam semesta dan berkonsultasi dengan para ulama yang mulia.

Satu hal penting yang patut dicatat, patokan kebenaran bukanlah banyaknya atau jumlah pengikut atau orang yang mengerjakan sebuah amalan. Syech Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Jadi, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. Inilah patokan mereka dalam hal menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang² yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al An’am: 116)

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187)

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ ۖ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya  Kami mendapati mayoritas mereka orang² yang fasik.” (QS. Al A’raf: 102) (Syarh Masail Al Jahiliyah hlm.60)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salah atau sesatnya sebuah dakwah, lebih² manakala dakwah tersebut berpijak di atas bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Bukankah dakwah para rasul yang mulia di awal kemunculannya tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian mereka hanya diikuti oleh segelintir orang, bahkan sebagian lainnya tidak mempunyai pengikut. Namun, itu semua tak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban dan tak menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. Al Bukhari no.5705-5752, dan Muslim no.220, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Syech Sulaiman bin Abdullah Alush rahimahumallah berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah seseorang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir Al Azizil Hamid hlm.106)

Fenomena Syahwat dan Syubhat

Di era globalisasi modern ini, syahwat dan syubhat menjadi ujian tersendiri bagi setiap muslim yang istiqamah di atas kebenaran. Ragam ujian itu pun benar² membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang. Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri² kaum muslimin.

Tak hanya kawula muda, para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya. Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi. Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. Al Bukhari no.5096 dan Muslim no.2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)

Betapa banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri. Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di majelis² taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia siap melakukan perbuatan maksiat, wirausaha dengan cara yang haram, mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutan istri. Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita.

Di antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan. Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa Nabi Musa ‘Alaihis salam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa Alaihis salam dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena tak sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membantah persangkaan Qarun yang batil itu dengan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala,

أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Apakah dia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat² sebelumnya yang lebih kuat dari padanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang² yang jahat itu tentang dosa² mereka.” (QS. Al Qashash: 78)

Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, tetapi orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big boss nya yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya. Ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat² Allah Subhanahu Wa Ta’ala (agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperingatkan orang² berilmu dari perbuatan yang tercela itu sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

“Sesungguhnya orang² yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang² yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!”
(QS. Al Baqarah: 174—175)

Ada hal penting yang patut diperhatikan. Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa mencermati dari mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun dakwah secara umum.

Langkah² di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, realitasnya jauh panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini? Marilah kita menengok kesabaran diri, mudah²an taufik dan inayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu bersama kita. Aamiin'..

Adapun godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat. Aliran² sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan rujukan. Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah² (ujian dan cobaan) layaknya potongan² malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.”
(HR. Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Syech Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat. Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antar mereka, dan menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan, benar² telah menjadi kenyataan (pada umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ

‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang² sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta. Sampai² jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir) pasti kalian akan mengikutinya’.”

Lebih lanjut, Syech Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata, “Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan, seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar mengembuskan racun² yang dahulu mereka sembunyikan. Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat Qadiyaniah dan Bahaiah.” (Haqiqah Al Manhaj Al Wasi’ ‘Inda Abil Hasan hlm.2)

Di era globalisasi modern ini, keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya pun semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?! Ragam godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat disaksikan di berbagai kanal televisi. Terlebih lagi di internet, semuanya dapat diakses secara bebas dan mudah. Bahkan, di dunia maya, semua orang termasuk “pegiat dakwah” dapat berkenalan dan berteman dengan siapa saja secara bebas dalam ajang FB (facebook) yang mengerikan itu. Para pencinta syahwat terfasilitasi untuk mengumbar syahwatnya. Demikian pula para penjaja syubhat terfasilitasi untuk menjajakan syubhatnya. Betapa banyak kasus perselingkuhan, perceraian, dan kasus² rumah tangga lainnya terjadi akibat pertemanan bebas di facebook. Betapa banyak pula orang² yang sebelumnya istiqamah di atas manhaj yang lurus menjadi melenceng akibat pertemanan bebas di facebook itu.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala  menganugerahkan kesabaran diri kepada kita semua sehingga dimudahkan untuk istiqamah di atas kebenaran kala ujian dan coban menerpa.

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..

Sabtu, 25 Februari 2017

BENARKAH KEPUTIHAN ITU NAJIS?

00.38.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Melanjutkan pertanyaan dari salah satu Akhwat, yang menanyakan soal 
Keputihan itu najis atau tidak, berikut penjelasannya'..

Sebenarnya apakah keputihan itu najis?

Permasalah keputihan merupakan permasalahan klasik pada kebanyakan kaum wanita.

Keputihan akan sering teralami saat wanita sedang hamil, hal ini akibat adanya perubahan hormonal yang terjadi dan salah satu efek dari peningkatan hormonal tersebut adalah adanya produksi cairan yang meningkat serta diakibatkan juga oleh kemaluan wanita hamil yang mengalami penurunan keasamannya, juga akibat kondisi pencernaan mengalami perubahan.  Hal tersebut menyebabkan meningkatnya resiko sering terjadinya keputihan pada wanita hamil,  terutama keputihan yang diakibatkan adanya infeksi jamur.

Dalam madzhab Abu Hanifah, Imam Ahmad dan salah satu pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan dikuatkan pula oleh Imam Nawawi, bahwa cairan keputihan itu suci.

Ketika dijelaskan tentang masalah keputihan dalam matan Zaad Al Mustaqni’, Syech Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin memilih pendapat yang menyatakan suci.

Beliau mengutarakan bahwa farji (kemaluan) itu punya dua saluran.

Saluran pertama adalah saluran reproduksi yang bersambung hingga ke rahim dan tidak terkait dengan saluran kencing maupun kandung kemih, keluarnya di bagian bawah saluran kencing.

Saluran kedua adalah saluran kencing, ini akan bersambung dengan kandung kemih dan keluar di atas kemaluan.

Jika cairan itu keluar dari kandung kemih lewat saluran kencing, maka hukumnya itu najis. Hukum cairan yang keluar seperti itu adalah seperti hukum air kencing, yaitu najis.

Jika cairan itu keluar dari saluran reproduksi, maka tergolong suci. Karena cairan tersebut bukanlah dari sisa pencernaan makan dan minum sebagaimana kencing. Hukum asalnya adalah tidak najis sampai adanya dalil. Juga dikarenakan ketika seorang suami bersenggama dengan istrinya, ia tidak harus untuk mencuci kemaluannya atau pula pakaian yang tercemari mani. Mani itu tidak najis. Sama pula dengan cairan yang keluar dari saluran reproduksi yang dibahas di atas. (Syarh Al Mumthi’, 1: 457)

Kesimpulannya, keputihan tidaklah najis dan tidak wajib membersihkan pakaian yang terkena keputihan.

Wallahu a’lam..

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

TIGA HAL YANG MENYELAMATKAN

00.31.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Ketika Iblis dikutuk oleh Allah ‘azza wa jalla dan dikeluarkan dari jannah (surga) karena membangkang terhadap perintah-Nya, ia bersumpah di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk menyesatkan bani Adam dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Tujuannya agar mereka menjadi teman²nya dalam api neraka.

Ancaman Iblis ini tidak hanya isapan jempol, tetapi ia buktikan dengan mengirim bala tentaranya ke seluruh penjuru bumi. Disesatkannya bani Adam dengan beragam bujuk rayu dan janji² yang menipu. Tiada yang selamat dari kejahatan Iblis beserta kroni²nya kecuali orang yang mendapat perlindungan dari Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, Allah Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Tidak dibiarkan para hamba menjadi santapan empuk makhluk jahat tersebut. Melalui lisan Rasul-Nya, Allah‘azza wa jalla telah menjelaskan jalan² keselamatan dari kejelekan Iblis, bahkan kejelekan dunia dan akhirat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِيالسِّرِّوَالْعَلَانِيَّةِ، وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ،وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى

“Tiga hal yang menyelamatkan: Takut kepada Allah ‘azza wa jalla saat sendirian dan di hadapan orang, Bersikap adil saat senang dan marah dan bersikap pertengahan di saat fakir dan kaya.” (HR. Abu Daud dalam At Taubikh dan ath Thabarani dalam Al Ausath dari Anas radhiallahu ‘anhu. Syech Al Albani menyatakan hasan dengan banyaknya jalan periwayatan. Ash Shahihah no.1082)

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Empat perkara yang siapa memilikinya akan dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla dari setan dan dicegah dari api neraka, yaitu mampu mengendalikan dirinya di saat senang, pada saat takut, saat dorongan syahwat, dan saat marah.”
(Al Wafi fi Syarhil Arba’in hlm.103)

Takut Kepada Allah

Seperti telah disebutkan di atas bahwa manusia menjadi target setan untuk disesatkan dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Apabila seseorang tidak memiliki perisai yang tangguh, akan sangat mudah bagi setan untuk mencelakakannya.

Di antara perisai yang kuat adalah sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dalam segala keadaan. Ketika seorang memiliki sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan merasa selalu diawasi oleh-Nya, dia akan menjalankan perintah² agama dan menjauhi larangan²nya. Dengan demikian, dia akan selamat dan sukses dunia serta akhiratnya.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla tidak akan muncul kecuali dari orang yang mengenal keagungan Allah‘azza wa jalla, kerasnya siksa dan kemampuan-Nya untuk membalas perbuatan hamba- Nya. Tanpa mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benar pengenalan, maka rasa takut kepada Allah‘azza wa jalla mustahil akan muncul, sebagaimana dikatakan, “Tak kenal maka tak sayang.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

        إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba²-Nya, hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kenal dengan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Orang yang membaca sirah/perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menemukan buktinya. Apabila dalam shalat beliau membaca ayat yang berkaitan dengan azab, beliau memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari azab. Bahkan, beliau terkadang menangis dalam shalatnya.

Orang yang mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sepenuh pengenalan akan merasa ucapan dan perbuatannya selalu dipantau, baik ketika sendirian maupun di hadapan orang. Inilah rasa takut yang benar, bukan seperti umumnya orang yang menampakkan seolah-olah takut dan taat kepada Allah ‘azza wa jalla ketika di hadapan banyak orang, namun saat sendiri berani bermaksiat kapada Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang takut kepada-Nya saat sendirian, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ ١٢

“Sesungguhnya orang² yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Mulk: 12)

Rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla merupakan faktor pendorong yang kuat untuk meninggalkan larangan Allah ‘azza wa jalla.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang takut bukan (hanya) yang menangis dan menitikan air mata. Orang yang takut (sesungguhnya) ialah orang yang meninggalkan apa yang perkara haram yang ia sukai padahal dia mampu untuk menjalankannya.”

Dari penjelasan ini, kita mengetahui sangat besar pula pahala orang yang melakukan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sembunyi², hanya antara ia dan Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula orang yang meninggalkan yang haram dalam kondisi sunyi padahal ia mampu melakukannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim tentang tujuh golongan yang dinaungi dengan naungan Allah ‘azza wa jalla pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya.

Di antara mereka ialah seorang yang berzikir mengingat Allah ‘azza wa jalla saat sendirian lalu meneteskan air matanya, dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi² hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dalam hadits tersebut juga disebutkan tentang seorang lelaki yang diajak berbuat zina oleh seorang wanita yang cantik dan bangsawan lantas ia berkata, “Aku takut kepada Allah ‘azza wa jalla, Rabb alam semesta.”

Bersikap Adil Saat Senang dan Marah

Hal ini tidak mudah tentunya, karena umumnya manusia menjadi buta dan tuli apabila mencintai sesuatu. Maksudnya, ia tidak memandang kejelekan yang ada pada yang dicintainya sebagai suatu kejelekan, sebagaimana ia tuli dan tidak bisa mendengarkan nasihat tentang bahayanya apa yang ia cintai. Berbeda halnya dengan seseorang yang membenci sesuatu (walaupun menurut timbangan syariat bukan sesuatu yang harus dibenci), ia akan mencari-cari kelemahan yang dibencinya.

Karena itu, sikap yang adil dan berucap yang benar menjadi sesuatu yang sangat langka kita jumpai di tengah² masyarakat. Bagaimana tidak?! Tidak jarang kita dapati di tengah² masyarakat, orang yang berlaku zalim terhadap orang lain karena cintanya terhadap orang tersebut. Segala kritikan membangun yang diarahkan kepada orang yang dicintainya akan dia tolak mentah². Terkadang dia justru melakukan perlawanan secara fisik demi membela orang yang dicintainya, meskipun ia salah secara timbangan agama. Inilah yang dinamakan fanatik buta.

Misal yang sangat nyata adalah para pengagum Sayid Quthub. Mereka membela Sayid Quthub mati²an, seolah ia seorang nabi yang maksum. Namun, di sisi lain mereka menjelek²kan para ulama, semisal Syech Rabi’, yang membeberkan kekeliruan Sayid Quthub dalam kitab²nya, terutama kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, yang lebih memiliki corak tafsir secara sastra. Syech Rabi’ melakukan kritikan terhadap kesalahan² Sayid Quthub seperti ini sebagai wujud membentengi umat dari kebatilan dan agar kesalahan² Sayid Quthub tidak diikuti.

Demikian pula, kadang ada orang tua yang melebihkan pemberian kepada anak yang dicintainya daripada anak²nya yang lain hingga timbul keretakan di tengah² keluarga. Ini sebabnya karena tidak mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperturuti nafsu yang sesat.

Seperti itu pula halnya, sulit bagi seseorang untuk bersikap adil di kala ia marah. Sebab, saat marah, biasanya orang lebih suka memperturuti hawa nafsunya dan sulit mengendalikan dirinya. Orang yang marah fisiknya goncang dan benaknya kacau. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah, sebagaimana hadits riwayat Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasai dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu.

Sikap adil dan ucapan yang benar hendaknya selalu dipegang erat oleh seorang muslim, baik terhadap kawan maupun lawan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Hal ini tentu menjadi salah satu di antara sekian banyak keindahan agama Islam ini. Sejarah menjadi saksi tentang indahnya Islam yang bisa dirasakan oleh kaum muslimin, bahkan oleh orang kafir sekalipun.

Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Al Bukhari dan Muslim bahwa dahulu ada seorang wanita dari kabilah Makhzum mencuri dan akan dipotong tangannya. Keluarga wanita tersebut tidak ingin tangan wanita itu dipotong. Mereka pun mencari seorang sahabat agar menyampaikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya wanita itu tidak dipotong tangannya. Mereka menemukan sahabat yang dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pesan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usamah menyampaikan pesan mereka. Nabi pun menegurnya seraya mengatakan, “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”

Di kala seorang marah, sulit baginya untuk mengontrol ucapan dan perbuatannya. Karena itu, dahulu dikatakan, “Kemarahan awal timbulnya seperti kegilaan, dan ujungnya hanyalah penyesalan.”

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang menahan amarahnya dan mempersiapkan bagi mereka surga yang penuh kenikmatan.

Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang² yang bertaqwa, (yaitu) orang² yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang² yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang² yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133—134)

Syariat memandang bahwa orang yang memperturuti nafsu amarahnya dan tidak mampu mengendalikan dirinya adalah orang lemah yang telah dikuasai oleh kejelekan.

Apabila dirunut, marah itu timbulnya dari setan. Maka dari itu, ketika marah seseorang dianjurkan berta’awudz (berlindung) kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan.

Al Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dahulu ada dua orang sahabat bertengkar di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya mencela temannya dalam kondisi marah dan wajahnya memerah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila ia ucapkan niscaya akan hilang darinya apa yang ia alami. Seandainya ia membaca,

أَعُوذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalladari setan yang terkutuk.”

Malik bin Dinar berkata, “Sejak aku mengenal orang, aku tidak memedulikan pujian mereka dan tidak pula celaan mereka. Sebab, aku tidak melihat kecuali orang yang berlebih²an ketika memuji atau mencela.” (Syarh Hadits “Allahumma bi’ilmikal ghaib” karya Ibnu Rajab hlm.47)

Bersikap Sederhana Saat Miskin dan Kaya

Sikap seperti ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Saat miskin, terkadang seorang berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama, misalnya mencari penghasilan dengan cara² yang dilarang. Demikian pula terkadang ia menjadi kikir untuk beramal dan berinfak karena takut hartanya habis. Sebaliknya ketika seorang kondisinya kaya, ia cenderung berfoya-foya dan melampaui batas, bahkan menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

Seorang muslim dibimbing untuk bersikap lurus dalam dua keadaan tersebut. Dia memandang bahwa nikmat adalah ujian, sebagaimana penyakit dan kefakiran adalah cobaan.

Seorang mukmin sejati akan selalu meniru kehidupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terkumpul padanya sikap syukur dan sabar. Apabila punya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kikir barang sedikit pun. Bahkan, orang yang meminta kepadanya tidak akan pulang dengan tangan hampa. Di kala punya, beliau memberi dengan pemberian orang yang tidak takut fakir karena percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Ketika haji wada’ beliau berkurban dengan seratus ekor unta.

Sikap yang pertengahan seperti ini pula yang beliau contohkan. Di saat sulit dan sempit beliau bersabar dan tidak mengeluh. Beliau tinggal beserta keluarganya sekian hari lamanya tanpa ada yang dimakan selain kurma dan yang diminum hanya air biasa. Ketika beliau mendatangi sebagian istrinya pada suatu hari dan menanyakan adakah makanan pada mereka, lalu dijawab bahwa tidak ada, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Apabila seseorang itu fakir, (hendaknya) ia tidak kikir karena takut hartanya habis, namun juga tidak boros sehingga terbebani dengan sesuatu yang sulit baginya.”

Hal ini sebagaimana bimbingan Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi-Nya dalam firman-Nya,

وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومٗا مَّحۡسُورًا ٢٩

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (berlebihan dalam membelanjakan) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al Isra’: 29)

Apabila seorang itu kaya, janganlah kekayaannya mendorongnya bersikap boros dan melampaui batas. Hendaknya ia tetap bersikap pertengahan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧

“Dan orang² yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah² antara yang demikian.” (QS. Al Furqan: 67)

Meskipun saat kaya seorang muslim melebihkan pembelanjaan hartanya dibandingkan ketika fakir, tetapi ia sederhana dan tidak berlebih²an. Tidak seperti kebanyakan orang kaya yang kekayaannya menyeretnya kepada sikap melampaui batas.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah ditegur oleh (orang) pada masa kekhalifahannya karena berpakaian sederhana. Ali radhiallahu ‘anhu menjawab bahwa hal ini lebih jauh dari sikap sombong dan lebih tepat agar beliau dicontoh oleh muslim yang lain.

Demikian pula Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah ditegur di masa kepemimpinannya tentang sikap membatasi (nafkah) atas dirinya (sederhana). Beliau berkata, “Sungguh, kesederhanaan yang paling utama adalah ketika seorang itu kaya, dan pemberian maaf yang paling utama adalah ketika seorang mampu membalas.” (Syarh hadits Allahumma bi’ilmika Al ghaib hlm. 46—47).

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..