Rabu, 05 April 2017

DOA AGAR DITEGUHKAN HATI DALAM KETAATAN

00.37.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Pada kesempatan sore ini kita lanjutkan pembahasan macam² do’a yang singkat namun penuh makna yang dibawakan oleh Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin. Semoga bermanfaat..

Do’a Agar Diteguhkan Hati dalam Ketaatan

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik..”

Artinya:
"Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu.."

Dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik..” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] (HR. Muslim no.2654).

An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab “Allah membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.”

Faedah hadits:

  • Hati manusia berada di antara dua jari dari sekian jari Allah yang Maha Pemurah. Allah memalingkan hati manusia tersebut  sesuai kehendak-Nya.
  • Jika sudah mengetahui demikian, maka hendaklah setiap hamba rajin memohon pada Allah agar diberi hidayah dan keistiqomahan serta agar tidak menjauh dari jalan yang lurus.
  • Jika seorang hamba bergantung dan bersandar pada dirinya sendiri, tentu ia akan binasa.
  • Hendaknya hamba menyerahkan segala usahanya kepada Allah Ta’alaa dan janganlah ia berpaling dari-Nya walaupun sekejap mata.
  • Hendaklah setiap hamba memohon kepada Allah agar terus menerus diteguhkan hati  dalam ketaatan dan tidak sampai terjerumus dalam maksiat atau kesesatan.
  • Di sini dikhususkan hati karena jika hati itu baik, maka seluruh anggota badan lainnya juga ikut baik.
Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..

AMALAN DOA DAN DZIKIR DI BULAN RAJAB

00.27.00 Posted by Admin 1 comment

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Alhamdulillah sekarang kita sudah memasuki bulan Rajab tepat pada hari ini Rabu tanggal 29 Maret 2017. Banyak amalan dan doa bulan Rajab yang dapat kita amalkan setiap hari selama bulan haram ini yakni bulan Rajab. Beberapa amalan yang sudah memasyarakat ketika memasuki awal bulan Rajab adalah membaca doa awal bulan dan menunaikan puasa sunnah Rajab.

Doa Ketika Masuk Bulan Rajab

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَـعْبَانَ وَبَلِّـغْنَا رَمَضَانَ

ALLAHUMMA BAARIK LANAA FII RAJABA WA SYA'BAANA WABALLIGNAA RAMADHAANA..

Selain itu, amalan wirid, dzikir dan doa selama bulan Rajab yang bisa kita amalkan yaitu memperbanyak shalawat nabi, wirid dan dzikir dan sebagainya. Berikut adalah beberapa amalan serta doa yang dapat dikerjakan selama bulan Rajab yang ane dapet dari Syech Abdul Qadir Jaelani:

Membaca Shalawat Selama Bulan Rajab

Berikut adalah bacaan shalawat yang dapat kita baca atau amalkan setiap hari selama bulan rajab..

اَللهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ 

ALLAAHUMMA SHALLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA 'ALAA AALIHI WASHAHBIHI AJMA'IINA..

Wirid dan Dzikir Selama Bulan Rajab

Berikut adalah beberapa bacaan wirid/dzikir yang dapat diamalkan selama bulan Rajab. Dibaca 100 kali, minimal setelah sholat fardhu. Adapun untuk bacaannya berbeda-beda disetiap sepuluh hari.

• Tanggal 1 sampai 10 Rajab (10 Hari Pertama)

سُبْحَانَ اللهُ حَيُّ الْقَيُّوْمُ 

SUBHAANALLAAHU HAYYUL QAYYUUMU.. (Dibaca 100 kali)

• Tanggal 11 sampai 20 Rajab (10 Hari Kedua)

سُبْحَانَ اللهِ اَحَدِ الصَّمَدْ

SUBHAANALLAAHI AHADISH-SHAMAD.. (Dibaca 100 kali)

• Tanggal 21 sampai 30 Rajab (10 Hari Ketiga)

سُبْحَانَ اللهُ الرَّؤُوْفُ 

SUBHAANALLAAHU ROUUFU.. (Dibaca 100 kali)


Amalan Setelah Shalat Selama Bulan Rajab

Bacaan atau amalan berikut, dibaca setelah selesai shalat magrib, isya dan subuh selama bulan Rajab.

Setelah shalat Magrib, isya dan subuh, silahkan baca atau amalkan ini sebanyak 70 kali..

رَبِّ غْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَتُبْ عَلَيَّ

ROBBIGHFIRLII WARHAMNII WATUB 'ALAYYA..

Khusus untuk shalat maghrib, setelah membaca wirid diatas, di lanjut membaca Al Qur'an surat Al Ikhlas sebanyak 11x..

Lanjut doa, mohon kepada Allah, utarakan hajat apa yang lagi di butuhkan'..

• Doa dibaca antara Dzuhur dan Ashar selama bulan Rajab (70x):

اَسْـتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا

ASTAGHFIRULLAAHAL AZIIM ALLADZI LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH. TAUBATA ABDIN DZAALIMIN LAA YAMLIKU LINAFSIHI DHARRAN WALAA NAF'AN WALAA MAUTAN HAYAATAN WALAA NUSYUURA..

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..

JANGAN TERLALU GAMPANG MENGUCAP BID'AH

00.16.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Bulan Rajab merupakan bulan mulia, banyak amalan yang bisa kita amalkan di bulan Rajab ini. Di antaranya berpuasa, sebab pertama yang harus kita ketahui bahwa bulan Rajab adalah salah satu dari empat  bulan yang diagungkan oleh Allah Ta'alaa yaitu Rajab, Dzulqadah, Dzulhijjah dan Muharram.

Sangat banyak di dalam hadits yang menyebutkan tentang kemuliaan dan keistimewaan Asyhurul Hurum, yaitu empat bulan yang diagungkan dan bagaimana dianjurkan untuk beramal ibadah di dalamnya antara lain puasa, shadaqah, taubat, dan lain sebagainya.

Terdapat di dalam Riwayat, dahulu ketika Rasul SAW ditanya oleh salah seorang sahabat apakah Rasul benar berpuasa di bulan Rajab, maka beliau SAW menjawab “betul”. Beliau SAW berpuasa di bulan Rajab dan beliau pun mengagungkan dan mengistimewakannya, maka begitu pun kita dianjurkan berpuasa.

Ada beberapa riwayat walaupun hadits Dho’if akan tetapi sebagian besar  ulama Ahli hadits mengatakan bahwasanya hadist Dho’if sangat boleh untuk diamalkan dengan beberapa syarat.

Sebagian ulama ahli hadits menyatakan bahwasanya hadist yang Dho’if itu boleh diamalkan, boleh dijalankan dan boleh dipraktekkan dengan beberepa syarat yaitu bukan dipraktekkan sebagai hukum, sebab hukum hanya diambil dari Hadits Shahih dan Hadits Hasan. Hadits Dho’if boleh dipraktekkan dalam perkara fadha’ilal amal yaitu amal ibadah yang bila kita kerjakan maka akan mendapat pahala dari Allah SWT. Maka kita kerjakanlah amal ibadah tersebut demi untuk meraih pahala yang tidak terdapat Halal Haram di dalamnya namun hanya anjuran untuk mengerjakannya. kata para ulama silahkan mengerjakannya..

Puasa hari pertama di bulan suci Rajab banyak hadits Dho’if yang meriwayatkan namun kita lihat puasanya itu. Hukum puasa ada di dalam hadits shahih yang menyatakan puasa adalah bagian dari agama dan bukan perkara yang haram. Hadist Dho’if ini menganjurkan untuk puasa sedangkan dalam hadits shahih, puasa memang dianjurkan. Jadi silahkan kerjakan puasa itu..

Istighfar pun bagian dari agama. Dinyatakan dalam hadits² yang Shahih. Di bulan suci Rajab juga dianjurkan untuk banyak beristighfar kepada Allah SWT dengan mengambil hadist Dho’if tersebut sebagai fadha’ilal amal, tidak dilarang oleh para ulama sebab seorang mukmin itu haus akan kebaikan, haus akan pahala dan kita pun demikian dan tidak ada orang yang bisa membatasi karunianya Allah.

Begitupun puasa di  empat bulan yang agung ini juga diberi pahala besar dari Allah SWT. Yang bisa kita lakukan maka lakukanlah. Dan bulan Rajab adalah bulan pengampunan Allah, bulan istighfar, minta ampun kepada Allah. Makanya guru² kita mengajarkan kepada kita selama bulan Rajab perbanyak istighfar kepada Allah. Biasanya dilakukan setelah sholat Subuh, Maghrib atau isya. guru² kita mengajarkan membaca "Rabbigfirli warhamni Watub’alayya.."

Kita berdo’a setiap hari sebanyak 70 kali memohon kepada Allah “Rabbigfirli warhamni Watub’alayya” (Ya Allah ampuni saya, Rahmati saya, terima taubat saya).

Terkadang ane merasa heran dengan sebagian orang jika kita beristighfar 70 kali sehabis maghrib, Isya dan Subuh di bulan Rajab dikatakan “ini Bid’ah, kullu bid’atin dholalahwa kullu dholalatin finnaar”. Mungkin mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak punya dosa, kalau kita banyak dosa, mereka suci dari dosa, dan kita beristighfar kepada Allah bukan hanya bulan Rajab, dzikir kita bukan hanya di bulan Rajab, setiap waktupun kita berdzikir kepada Allah, namun secara khusus bulan Rajab, guru² kita mengajarkan kita demikian.

Bulan Rajab adalah bulan pengampunan Allah, bulan baik, bulan yang besar anugerah dari Allah SWT dan tidak ada larangan mengkhususkan istighfar di bulan Rajab. Tidak bisa mengharamkan sesuatu berdasarkan hawa nafsu, tidak bisa seperti itu sebab agama ini bukan milik muslim yang merasa sok paling benar. Bila ada sebagian pihak yang tidak mau istighfar, jangan mengganggu orang yang ingin beristighfar. Hargailah mereka yang punya dalil, untuk melakukan amalan di bulan Rajab.

Di bulan Rajab ini bulan diterimanya perintah shalat oleh Rasulullah SAW dari Allah SWT, baguskan sholat kita, perintahkan sanak keluarga kita untuk sholat 5 waktu berjamaah di Masjid. Selain itu, bulan Rajab adalah bulan tempat mengharap ridho Allah, keberkahan dari Allah, pertolongan dari Allah bahkan untuk seluruh umat Islam, sebab ketika itu pintu langit dibuka oleh Allah, do’a diijabah oleh Allah, kita minta kepada Allah semoga hajat² kita diijabah dan dikabulkan oleh Allah SWT lebih dari apa yang kita harapkan.

Dahulu ulama² kita duduk di majelis mereka dengan membawakan hadits²nya Rasulullah SAW seperti Al Imam Malik bin Anas, beliau duduk di masjid Nabawi di hadapan makamnya Rasul SAW sambil membawakan hadits² Rasulullah SAW. Semua ulama duduk di situ mendengarkan mereka datang dari berbagai penjuru untuk mendengarkan hadits yang disampaikan oleh Al Imam Malik bin Anas, setelah  berlalu masa Imam Malik datang para ulama yang lainnya. Imam Bukhari pun demikian beliau duduk di kursinya beliau membawakan hadits²nya Rasulullah SAW.

Terkadang sekali duduk dibawakan sekitar seribu sampai sepuluh ribu hadistnya Nabi Muhammad SAW, yang di dalamnya ada ucapan, bimbingan, dan sejarah hidupnya nabi Muhammad SAW dibacakan. Dan belum pernah ada seorang pun yang mengatakan bahwasanya perkumpulan hadits Nabi Muhammad SAW itu adalah bid’ah!! Tidak ada orang mengatakan itu, termasuk mereka yang sering  membid’ah kan. Anehnya kenapa Maulid di bid’ah kan? Padahal isinya juga kan hadits² tentang lahirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sejarah hidupnya Rasulullah SAW, kenapa dibid’ah kan?

Nabi SAW terkadang menganjurkan ketika wudhu 3 kali, 2 kali dan kadang 1 kali usapan. Kenapa? Karena ingin mengajarkan kepada umatnya bahwa wudhu ini luas. Kita ingin wudhu 3 kali? Boleh, sempurna. Kita ingin wudhu 2 kali? Boleh! Kita ingin wudhu sekali? Boleh! Intinya apa? Ini agama luas.

Nabi terkadang sholatnya di awal waktu, kadang di pertengahan waktu dan kadang di akhir waktu. Di satu waktu, Nabi SAW sholat dengan suara yang pelan, beberapa sahabat dengar bacaan mereka mengikuti, Ini agama luas maka jangan dipersempit..

ketika di pertempuran Khandak Nabi pernah berkata kepada para sahabat “Hendaknya tidak ada seorang pun dari kalian yang sholat Ashar hari ini, melainkan di perkampungan bani Quraidhah”. Para sahabat langsung bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. Beberapa dari mereka yang telat, rombongan ini diperjalanan matahari hampir terbenam sedangkan mereka belum Sholat Ashar. Terjadilah perselisihan antara mereka. Satu kelompok berkata ”kita harus shalat Ashar sekarang sebentar lagi matahari terbenam dan kita belum sholat Ashar”.

Dan satu lagi berkata ”tidak ada urusan mau matahari terbenam atau terbit lagi yang jelas Nabi menyuruh kita sholat Ashar di bani Quraidhah dan kita belum sampai di bani Quraidhah”. Mereka mengikuti ucapan Nabi apa adanya. Akhirnya satu kelompok shalat Ashar di situ dan kelompok yang lain menunggu tidak sholat Ashar disitu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di bani Quraidhah dan berjumpa dengan Rasulullah. Lalu mereka menceritakan kepada Rasulullah.

Mendengar hal itu, Nabi SAW merestui keduanya. Yang sholat di tengah jalan silahkan, yang sholat di bani Quraidhah setelah keluar waktu silahkan. Ini punya hujjah dan yang ini juga punya hujjah. Ini punya dalil dan yang ini punya dalil, Jadi Hargailah..

Yang menjadi masalah jika kita memaksakan “Saya tidak suka Istighfar Rajab, yang lain tidak boleh istighfar, yang istighfar dia bid’ah masuk ke dalam neraka”. Kalau memang ada yang tidak mau istighfar ya silahkan. Dalam hal ini tidak ada paksaan, yang ada kita hanya ingin beristighfar.

Kita saling sayang saling menghormati satu sama lain inilah agama kita mengajarkan “laa yukallifullahu nafsan illa wus‘aha”. Dalam ayat yang lain Allah SWT mengatakan “Laa iqraha fiddini” tidak ada paksaan dalam beragama islam. Ini agama luas. Syariat nabi Muhammad SAW untuk setiap zaman, setiap waktu, setiap tempat, setiap generasi dan setiap keadaan beda², tidak semua sama.

Lalu apa kesimpulan dari penjelasan di atas?

Intinya perselisihan pendapat dalam masalah ibadah itu akan selalu ada sampai kiamat nanti. Yang jelas yang perlu di ingat adalah setiap amalan baik yang di kerjakan karena Allah, tidak ada kata yang sia²..

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al Zalzalah : 7-8)

Mudah²an hati kita dibersihkan oleh Allah SWT. Masalah sebenarnya adalah penyakit hati dan ini yang perlu dibersihkan. Sikap fanatik yang berlebihan itu yang mesti dibuang. Semoga kita semua dibimbing oleh Allah SWT agar senantiasa selalu berada di jalan yang benar dan lurus yang Allah ridhoi'..

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan renungan yang bermanfaat'..

Selasa, 04 April 2017

SIAPA BILANG PUASA RAJAB ITU BID'AH?

14.22.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Islam memberi ruang seluas mungkin kepada pengikutnya untuk beribadah. Selain diperintah mengerjakan ibadah wajib, umat Islam dianjurkan pula melaksanakan ibadah sunnah. Kendati pintu ibadah dibuka lebar, namun amalan yang dilakukan mesti mendapat legitimasi di dalam syariat.

Di antara ibadah yang kerap kali dipermasalahkan ialah puasa Rajab. Sebagian orang berpendapat bahwa puasa Rajab tidak diperbolehkan alias bid’ah, karena tidak ada dalil spesifik yang membolehkannya. Bahkan, hadits² keutamaan puasa di bulan Rajab kebanyakan dhaif dan maudhu’.

Namun apakah kelemahan dalil tersebut berdampak pada ketidakbolehan puasa di bulan Rajab? Jawabannya tentu tidak. Pertanyaan hukum puasa Rajab pernah ditanyakan Utsman bin Hakim kepada Sa’id Ibnu Jubair. Dialog kedua orang ini direkam oleh Imam Muslim bin Hajaj dalam kitab Shahihnya.

حدثنا عثمان بن حكيم الأنصاري، قال: سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب ونحن يومئذ في رجب، فقال: سمعت ابن عباس رضي الله عنهما يقول: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر، ويفطر حتى نقول لا يصوم

"Utsman bin Hakim Al Anshari berkata, ‘Saya pernah bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab dan kami pada waktu itu berada di bulan Rajab. Said menjawab, ‘Saya mendengar Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Beliau SAW selalu berpuasa, dan Beliau tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga Beliau tidak  puasa." (HR. Muslim).

Terkait hadits ini, khususnya jawaban Syech Sa’id Ibnu Jubair saat ditanya hukum puasa Rajab, Imam An Nawawi dalam Al Minhaj Syarah Shahih Muslim berpendapat sebagai berikut..

الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أنه لانهى عنه ولا ندب فيه لعينه بل له حكم باقي الشهور ولم يثبت في صوم رجب نهي ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي دود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها

“Istidlal yang dilakukan Sa’id Ibnu Jubair menunjukan tidak ada larangan dan kesunahan khusus puasa di bulan Rajab. Hukumnya disamakan dengan puasa di bulan lainnya, sebab tidak ada larangan dan kesunahan khusus terkait puasa Rajab. Akan tetapi hukum asal puasa adalah sunnah. Di dalam Sunan Abu Daud disebutkan Rasulullah SAW menganjurkan puasa di bulan haram (bulan² suci). Sementara Rajab termasuk bulan haram.”

Berdasarkan pendapat Imam An Nawawi ini, hukum puasa di bulan Rajab adalah sunnah. Pendapat ini berpatokan pada hukum asal puasa itu sendiri, boleh dilakukan kapan pun kecuali pada hari² yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha.

Di samping itu, terdapat hadits yang dikutip oleh Abu Daud di dalam Sunan nya yang menunjukan anjuran (kesunahan) puasa di bulan haram. Sementara Rajab termasuk bulan haram. Wallahu a’lam..

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

ADAKAH ANJURAN BERPUASA DI BULAN RAJAB?

14.11.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Sebagian orang sempat menganjurkan bahwa banyaklah puasa pada bulan Rajab. Ada pula yang menganjurkan untuk berpuasa di awal² bulan Rajab. Apakah betul anjuran seperti ini ada dasarnya?

Dulu ane sempet bertanya pada salah satu guru ane Syech Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab dan pada saat itu kebetulan sedang berada di bulan Rajab, maka beliau menjawab: Aku mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpuasa sampai kami berkata nampaknya beliau akan berpuasa seluruh bulan. Namun suatu saat beliau tidak berpuasa sampai kami berkata: Nampaknya beliau tidak akan puasa sebulan penuh.” (HR. Muslim dalam kitab Ash Shiyam. An Nawawi membawakannya dalam Bab Puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di selain bulan ramadhan).

Sebagian orang agak sedikit bingung dalam menyikapi hadits di atas, apakah di bulan Rajab harus berpuasa sebulan penuh ataukah seperti apa?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

”Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits² ini sebagai sandarannya.”

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syech Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan² haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Majmu’ Al Fatawa 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, "Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.”

Imam Asy Syafi’i mengatakan, ”Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Beliau berdalil dengan hadits Aisyah yaitu Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan² lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif no.215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut..

• Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang² awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.

• Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib yaitu amalan puasa Ramadhan).

• Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan² lainnya. (Al Hawadits wal Bida hal.130-131).

Jadi kesimpulannya adalah Tidak boleh puasa sebulan penuh di bulan Rajab kecuali jika berpuasanya karena bulan Rajab adalah di antara bulan² haram. Yang tercela sekali adalah jika puasanya sebulan penuh di bulan Rajab sama halnya dengan bulan Ramadhan atau menganggap puasa bulan Rajab lebih istimewa dari bulan lainnya termasuk bulan Ramadhan.

Jika memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis, puasa Daud atau puasa ayyamul biid, maka tetap rutinkanlah di bulan Rajab.

Semoga Allah Ta'alaa memberikan kita taufik untuk tetap beramal sholeh..

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB DAN KEUTAMAAN PUASA RAJAB

14.05.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Dalam hitungan kalender hijriyah, bulan Rajab merupakan bulan ketujuh. Dan besok pada hari Rabu 29 Maret 2017 itu sudah masuk tanggal 1 Rajab 1438 H. Bulan ini termasuk salah satu bulan haram (suci) dan bulan yang dimuliakan. Karena merupakan bulan haram, maka tidak heran jika dikalangan masyarakat muslim banyak yang melakukan amalan² ketaatan di bulan ini, termasuk menunaikan puasa sunnah rajab.  

Terdapat 4 (empat) bulan haram yang dikenal tradisi Islam, ketiganya secara berurutan adalah: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satunya adalah bulan Rajab. Beberapa alasan kenapa bulan² tersebut dinamakan bulan haram adalah..

• Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang² Jahiliyyah pun meyakini demikian.

• Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan dari pada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan. (Zaadul Masiir tafsir surat At Taubah ayat 36)

Allah SWT berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ 

Artinya :
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang² yang bertaqwa."
(QS. At Taubah : 36)

Keutamaan Puasa Rajab

Hadits² Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan² haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Mujibah Al Bahiliyah, Rasulullah bersabda "Puasalah pada bulan² haram." (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Hadits lainnya adalah riwayat An Nasa'i dan Abu Daud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya'ban. Rasul menjawab: "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang."

Menurut Asy Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, "Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadits shahih imam Muslim. Bahkan berpuasa di dalam bulan² mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan² Al muharram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Al Ghazali dalam Ihya Ulumid Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari² utama (Al Ayyam Al Fadhilah). Hari² utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori Al Asyhur Al Fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori Al Asyhur Al Hurum di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam Kifayah Al Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah bulan² haram yaitu dzulqa’dah, dzulhijjah, rajab dan muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan Al muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syech Al Rayani, bulan puasa yang utama setelah Al Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Keistimewaan Bulan Rajab

Berikut beberapa hadits yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab..

• Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdo’a: “Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

• "Barangsiapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa²nya dengan kebaikan.

• "Riwayat Al Thabarani dari Sa'id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu² neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya.."

• "Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut".

• Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari Al Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Rajab itu bulannya Allah, Sya'ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku."

• Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?” Maka berkata Jibril a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat'..

Senin, 03 April 2017

DOA MEMINTA KETAQWAAN DAN SIFAT QANA'AH

01.22.00 Posted by Admin No comments

Assalamu'alaikum Akhi Ukhti'..

Setelah sebelumnya ane kemukakan tentang keunggulan do’a yang ringkas, namun syarat makna. Begitu pula ane telah kemukakan mengenai keutamaan do’a sapu jagad yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan (yaitu do’a: Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar), selanjutnya kita lihat beberapa do’a lainnya yang diangkat oleh Imam An Nawawi (Yahya bin Syarf An Nawawi) dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin. Ane pun akan mengutarakan faedah do’a tersebut..

Do’a Meminta Ketaqwaan dan Sifat Qona’ah

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina..”

Artinya:
"Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketaqwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.."

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina..” (HR. Muslim no.2721)

Faedah Hadits:

1. Yang dimaksud dengan “al huda” adalah petunjuk dalam ilmu dan amal. Yang dimaksud “al afaf” adalah dijauhkan dari yang tidak halal dan menahan diri darinya. Yang dimaksud “al ghina” adalah kaya hati, yaitu hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada harta yang ada di tangan orang lain.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim 17/41)

2. Keutamaan meminta petunjuk ilmu sekaligus amal karena yang dimaksud al huda adalah petunjuk dalam ilmu dan amal.

3. Keutamaan meminta ketaqwaan. Yang dimaksud taqwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Taqwa diambil dari kata “wiqoyah” yang maknanya melindungi, yaitu maksudnya seseorang bisa mendapatkan perlindungan dari siksa neraka hanya dengan menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

4. Keutamaan meminta sifat ‘afaf atau ‘iffah yaitu agar dijauhkan dari hal² yang diharamkan semacam zina. Berarti do’a ini mencakup meminta dijauhkan dari pandangan yang haram, dari bersentuhan yang haram, dari zina dengan kemaluan dan segala bentuk zina lainnya. Karena yang namanya zina adalah termasuk perbuatan keji.

5. Keutamaan meminta pada Allah sifat al ghina yaitu dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qona’ah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak. Karena ingatlah bahwa kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no.6446 dan Muslim no.1051)

6. Dianjurkannya merutinkan membaca do’a ini.

Wallahu Waliyyut Taufiq Was Sadaad'..

Semoga bisa menjadi ilmu dan amalan yang bermanfaat'..